Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pinrang menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Koleksi Perpustakaan Daerah berjudul “Pinrang dari Abad ke Abad”, bertempat di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pinrang.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pinrang, Bapak Rachmatullah, S.IP, serta menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. A. Pangeran Moenta, S.H., M.H., DFM, akademisi dan pemerhati sejarah lokal Sulawesi Selatan. Acara ini dipandu oleh Abdul Wahid Nara, S.Pd., M.Pd selaku moderator.
Buku “Pinrang dari Abad ke Abad” merupakan karya penting yang lahir dari hasil simposium sejarah yang melibatkan para tokoh, akademisi, budayawan, dan pemerhati sejarah lokal Pinrang.
Melalui simposium tersebut, berbagai data dan pandangan historis dikumpulkan dan diolah menjadi sebuah naskah utuh yang mendokumentasikan perjalanan panjang Kabupaten Pinrang dari masa kerajaan hingga era modern.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pinrang, Rachmatullah, S.IP, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Dinas dalam memperkuat literasi daerah dan memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah Pinrang kepada masyarakat.
“Bedah buku ini bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah. Buku ini menjadi bukti nyata bahwa sejarah Pinrang hidup dan tumbuh bersama masyarakatnya,” ujar Rachmatullah.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. A. Pangeran Moenta menegaskan bahwa buku “Pinrang dari Abad ke Abad” bukan hanya catatan kronologis, melainkan refleksi perjalanan identitas masyarakat Pinrang.
“Melalui buku ini, kita bisa melihat Pinrang bukan sekadar wilayah geografis, tapi juga ruang sejarah yang membentuk karakter dan jati diri masyarakatnya. Nilai-nilai lokal yang lahir dari pengalaman sejarah menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan daerah ini,” ungkap Prof. Moenta.
Beliau juga mengapresiasi langkah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang terus mengangkat literasi berbasis kearifan lokal.
“Simposium yang melahirkan buku ini adalah wujud kolaborasi pengetahuan. Inilah bentuk literasi yang hidup—lahir dari dialog, pengalaman, dan kesadaran bersama untuk menjaga warisan daerah,” tambahnya.