Suasana Lasinrang Park pada Selasa malam, 25 November 2025, terasa berbeda. Tepat pukul 19.30 Wita, sebuah studio mini di pojok area utama festival menjadi ruang pertemuan budaya tiga negara dalam podcast “Culture Stories” yang dipandu Wahyuniar Yusuf. Hadir sebagai narasumber: Quetzalli Marquez (Mexico), Mansi (India), dan Putra Jaya Wiyuda, Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Pinrang dan Koordinator LO festival.
Cerita Budaya di Tengah Festival
Quetzalli Marquez mengawali percakapan dengan membagikan kisah tentang tariannya yang terinspirasi dari Día de los Muertos. Ia menggambarkan Pinrang dengan satu kata: beautiful, merujuk pada keramahan masyarakat yang ia temui.
Di sampingnya, Mansi—mahasiswi teknik komputer sekaligus relawan pendidikan global—bercerita tentang betapa spesialnya interaksinya dengan anak-anak Pinrang. Ia menggambarkan Pinrang dengan kata dildar, istilah Hindi yang berarti berhati besar.
Tantangan Bahasa dan Pembelajaran Lintas Negara
Putra Jaya Wiyuda mengungkapkan bahwa bahasa menjadi tantangan terbesar dalam mendampingi delegasi internasional. Namun justru dari tantangan itu para guru belajar dan meningkatkan kompetensi komunikasi mereka.
Karasa, Bandang, dan Lelucon di Studio Mini
Pada sesi ringan, para narasumber membahas makanan tradisional yang mereka cicipi. Mansi mengaku sangat menyukai karasa. Sementara Quetzalli mencoba mengingat makanan lokal yang ia sebut “mirip popcorn”. Percakapan pun berlanjut hingga pada akhirnya terungkap bahwa makanan yang ia maksud adalah bandang—kue khas Bugis yang dibungkus daun pisang, dibuat dari campuran tepung beras dan berisi pisang.
Tawa hangat mengisi studio mini saat mereka saling bertukar kesan tentang kudapan itu dan keramahan warga Pinrang yang selalu menyapa.
Pesan dari Mexico dan India untuk Pinrang
Di akhir percakapan, Quetzalli menyampaikan harapan adanya kolaborasi budaya lanjutan antara Indonesia dan Mexico.
Mansi berharap generasi muda Pinrang dapat tampil di panggung internasional—di India, Mexico, atau negara lainnya.
Putra Jaya Wiyuda menambahkan harapan agar pertukaran budaya yang terjadi selama festival menjadi awal jalinan kerja sama yang lebih kuat.
Sebuah Malam yang Menyatukan Banyak Cerita
Podcast ditutup dengan ajakan menghadiri penutupan festival pada keesokan hari di panggung utama Lasinrang Park. Pada malam itu, studio mini di pojok taman menjadi ruang kecil yang mempertemukan tiga benua, tiga budaya, dan satu pesan besar: bahwa perjumpaan antarmanusia selalu bisa menemukan makna di tempat yang sederhana.
Foto : (Suara Bumi Lasinrang / Azhar)