PINRANG – Aula Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DDI Pinrang dipenuhi suasana penuh haru dan kekhidmatan pada Rabu, 3 Desember 2025, saat digelarnya Seminar dan Kuliah Umum Haul ke-29 AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, tokoh besar dan ulama pendiri Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI). Kegiatan yang dirangkaikan dengan Dzikir Puisi untuk Negeri itu mengangkat tema “Ati Macinnong: Pondasi Spiritualitas Gurutta.”
Acara yang dipersembahkan oleh Ikatan Mahasiswa DDI (IMDI) ini turut menggandeng Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, ID Humanity dan Great Edunesia, serta dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Pinrang, pengurus besar DDI, mahasiswa dan perwakilan kader DDI dari berbagai daerah.
Pesan Warisan Perjuangan dan Keilmuan
Ketua STAI DDI Pinrang Muhammad Mukhtar, S.Pd., M.Pd. dalam laporannya menyampaikan perkembangan akademik kampus termasuk keberhasilan memperoleh akreditasi Baik Sekali, dan menegaskan bahwa kiprah Gurutta AGH. Abdurrahman Ambo Dalle menjadi pijakan utama perjalanan perguruan tinggi.
Sementara itu, Ustaz Ahmad Pranggodo, SQ., M.Pd. dari Dompet Dhuafa mengajak seluruh peserta menumbuhkan aksi kemanusiaan yang berkelanjutan.
“Mari bergotong royong menuntaskan kemiskinan, kebodohan dan menjaga nilai Al-Qur’an serta Sunnah dalam kehidupan,” ujarnya.
Zawawi Imron: Hati Bersih adalah Jalan Cahaya
Sorotan utama kegiatan hadir melalui penyampaian materi oleh sastrawan nasional K.H. D. Zawawi Imron, yang memadukan pesan spiritual, nasionalisme dan kedalaman sastra. Ia menegaskan bahwa Ati Macinnong—istilah Bugis untuk hati yang bening dan bercahaya—adalah fondasi karakter manusia dan bangsa.
“Orang yang punya ati macinnong, seujung rambut pun tak akan punya benci kepada orang lain. Kalau hati bersih, pelajaran akan masuk ke dalam hati,” tegas Zawawi.
Pesan motivasi bagi generasi muda juga mengalir kuat dari beliau:
“Untuk menjadi pemimpin tidak perlu cantik. Yang penting pintar. Dan untuk pintar: belajar, belajar, belajar.”
Zawawi menuturkan bahwa keberhasilan Indonesia merawat kebangsaan dan persatuan bergantung pada kemurnian hati dan sikap menghormati guru, orang tua, serta tanah air.
Puisi dan Rasa Haru untuk Gurutta
Ruang menjadi senyap ketika Mursyidah Raudhatul Jannah membawakan puisi “Ode Buat Gurutta”, karya Zawawi Imron yang dipersembahkan sebagai penghormatan atas perjuangan AGH. Abdurrahman Ambo Dalle. Banyak peserta terlihat menyeka mata, larut dalam rasa kehilangan tetapi penuh bangga terhadap warisan perjuangan Gurutta.
Penutup dan Harapan
Acara ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada Zawawi Imron dan pemutaran video program kemanusiaan Dompet Dhuafa Sulsel, yang mempertegas semangat meneruskan jejak dakwah dan kepedulian sosial yang diwariskan Gurutta.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat kembali komitmen generasi muda DDI sebagai pewaris budaya ilmu, adab, dan persatuan bangsa.