Suasana mengharukan menyelimuti studio Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL) 92.4 FM pada Rabu (3/12), ketika dua representasi penyandang disabilitas Pinrang hadir sebagai narasumber dalam program podcast spesial memperingati Hari Disabilitas Internasional 2025. Dengan suara bergetar namun penuh ketegasan, mereka menyampaikan pesan yang menggugah kesadaran publik tentang inklusivitas dan penghargaan terhadap hak-hak penyandang disabilitas.
Podcast yang dipandu oleh Ogi tersebut menghadirkan Nurlia, Pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Pinrang, serta Darwan, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Cabang Pinrang. Melalui dialog yang jujur dan menyentuh, keduanya memotret realitas perjuangan penyandang disabilitas dalam meraih kesetaraan akses, penghargaan sosial, serta kesempatan berprestasi di dunia olahraga, pendidikan, dan layanan publik.
Prestasi Tetap Lahir Meski Fasilitas Terbatas
Dalam perbincangan, Darwan mengungkapkan bahwa atlet disabilitas di Pinrang menorehkan prestasi membanggakan. Tiga atlet disabilitas dari Pinrang terpilih mewakili Provinsi Sulawesi Selatan pada ajang nasional. Mereka bertanding pada cabang olahraga lari, tolak peluru, dan bulu tangkis, dan menempati posisi terbaik ke-4 hingga ke-6 pada level nasional.
Namun di balik keberhasilan itu, terungkap perjuangan yang tidak ringan.
“Perjuangan mereka luar biasa. Dari Pinrang ke Makassar sampai ke Jakarta, semuanya butuh pengorbanan besar. Jangan sembunyikan anak-anak penyandang disabilitas. Rangkul mereka, bimbing mereka, biar bisa berprestasi,” ujar Darwan dengan suara mantap.
Ia juga menyoroti tantangan terbesar berupa keterbatasan anggaran dan kebutuhan peningkatan fasilitas olahraga yang layak bagi atlet disabilitas. Meskipun saat ini fasilitas mulai membaik, masih banyak sarana yang perlu dilengkapi seiring bertambahnya cabang olahraga yang dibina.
Pengalaman yang Menyentuh: Saat Stigma Lebih Menyakitkan dari Keterbatasan Fisik
Salah satu momen paling menyentuh datang dari Nurlia, yang membagikan pengalaman pribadinya tentang sikap berlebihan dan salah persepsi yang masih sering diterima penyandang disabilitas.
Dengan nada lirih namun tegas, ia mengatakan:
“Stop stigma, stop diskriminasi. Terimalah kami apa adanya. Kami memiliki kemampuan, kami punya keahlian.”
Ia bercerita bagaimana dalam sebuah kegiatan resmi, penyelenggara memperlakukannya terlalu hati-hati karena menganggap penyandang disabilitas mudah tersinggung. Sikap baik yang berlebihan justru terasa merendahkan martabat.
“Masalah perasaan itu ke individunya, bukan ke komunitasnya. Kami sama seperti orang lain. Jangan memandang ke kelemahannya, lihatlah kemampuannya,” tegasnya.
Pengakuan tersebut menggugah banyak pendengar, mengingat stigma sosial sering kali lebih melukai daripada keterbatasan fisik itu sendiri.
Harapan Besar: Perda Disabilitas untuk PinrangDalam sesi akhir, kedua narasumber menyampaikan harapan besar terhadap lahirnya Peraturan Daerah tentang Penyandang Disabilitas, yang menjadi landasan hukum untuk memperkuat akses layanan publik, pendidikan, pendataan, dan perlindungan hak-hak penyandang disabilitas.
“Mimpi kami paling dekat adalah Perda. Karena tanpa Perda, kami tidak punya pegangan untuk bergerak. Kami butuh payung hukum untuk mewujudkan semua mimpi,” ujar Nurlia.
Selain itu, akses pendidikan bagi pelajar disabilitas juga masih menjadi pekerjaan besar. Minimnya guru bahasa isyarat di sekolah umum menyebabkan banyak siswa disabilitas tidak terlayani dengan baik.
Inklusi Adalah Hak, Bukan Hadiah
Menutup siaran, host Ogi menyampaikan pesan mendalam yang menjadi refleksi bagi seluruh masyarakat:
“Inklusi bukanlah hadiah, tetapi hak. Mungkin kita tidak bisa membangun trotoar baru hari ini, mungkin kita tidak bisa mengubah sistem dalam semalam. Tapi kita bisa mulai dari satu hal: menghargai manusia sebagai manusia.”
Acara ini disiarkan langsung melalui Radio SBL 92.4 FM dan live streaming YouTube serta media sosial resmi SBL sebagai bentuk komitmen menghadirkan ruang dialog yang memperjuangkan suara-suara yang kerap tak terdengar.
Podcast ini bukan hanya diskusi, tetapi panggilan moral. Bukan hanya cerita, tetapi seruan perubahan. Karena dunia yang ramah bagi penyandang disabilitas adalah dunia yang lebih baik bagi kita semua.
Editor: Tim Redaksi Radio Suara Bumi Lasinrang
SBL – Ruang Bersama untuk Semua Suara