PINRANG — Dedikasi perempuan perajin dalam menjaga dan menghidupkan warisan budaya kembali memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah provinsi. Asmaniah, penggerak sentra tenun Lero di Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, ditetapkan sebagai Penerima Penghargaan Perempuan Inspiratif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2025 kategori Bidang Sosial.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 2058/XII/Tahun 2025 yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, pada tanggal 05 Desember 2025 di Makassar. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi resmi negara kepada perempuan penggerak pembangunan yang berkontribusi nyata dalam pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Asmaniah dikenal luas sebagai perajin sekaligus penggerak tenun Lero, salah satu wastra khas Sulawesi Selatan yang memiliki nilai budaya, sejarah, dan ekonomi tinggi. Kain tenun Lero, yang umumnya berbentuk sarung, diproduksi secara turun-temurun di Desa Ujung Lero, wilayah pesisir yang menjadi sentra utama tenun tersebut.
Secara historis dan kultural, tenun Lero merupakan pengembangan motif dari tradisi tenun Suku Mandar. Hal ini erat kaitannya dengan kondisi sosial Desa Ujung Lero yang sejak lama dihuni oleh masyarakat dengan mayoritas penduduk berasal dari Suku Mandar. Pengaruh budaya Mandar tercermin pada pola geometris, komposisi warna, serta filosofi motif yang merepresentasikan kehidupan pesisir dan nilai-nilai kebersamaan.
Seiring perjalanan waktu, motif-motif tersebut berkembang melalui proses akulturasi dengan kearifan lokal masyarakat Pinrang, membentuk identitas khas tenun Lero sebagai wastra daerah yang tetap berakar pada tradisi, namun adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam proses produksinya, para perajin masih banyak menggunakan alat tenun tradisional (gedogan). Namun seiring perkembangan, sebagian perajin juga mulai mengadopsi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk meningkatkan kualitas, kreativitas motif, dan kapasitas produksi tanpa meninggalkan nilai tradisi.
“Tenun Lero bukan sekadar kain, tetapi identitas dan warisan leluhur kami. Melalui tenun ini, kami para perempuan berusaha menjaga budaya sekaligus menghidupi keluarga. Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh perajin Lero yang dengan setia menenun dari generasi ke generasi,” ujar Asmaniah.
Sebagai Ketua Industri Kecil Menengah (IKM) Tenun, Asmaniah aktif membina sedikitnya 30 perempuan penenun di Desa Lero. Pembinaan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan keterampilan teknis, pengembangan motif, hingga mendorong inovasi agar tenun Lero tetap memiliki daya saing di tengah dinamika pasar.
Keberhasilan pengembangan tenun Lero tidak terlepas dari dukungan berkelanjutan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pinrang. Ketua Dekranasda Kabupaten Pinrang, Hj. Andi Sri Widiyati Irwan, menegaskan komitmen lembaganya dalam memperkuat posisi perajin lokal.
“Perajin tenun Lero, seperti Ibu Asmaniah, adalah aset budaya Kabupaten Pinrang. Dekranasda berkomitmen memberikan dukungan berkelanjutan, mulai dari pembinaan, peningkatan kualitas produk, hingga promosi di tingkat nasional, agar tenun Lero semakin dikenal dan memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” kata Hj. Andi Sri Widiyati Irwan.
Ia juga menyampaikan apresiasi personal kepada Asmaniah.
“Selamat, Bu Asmaniah. Semoga ilmu dan pengalaman yang dimiliki membawa berkah serta menginspirasi ibu-ibu perajin lainnya. Terima kasih karena telah menjadi motivator dan penggerak bagi perempuan di sekitar kita,” ungkapnya.
Komitmen tersebut diwujudkan secara konkret ketika tenun Lero diperkenalkan kepada Ibu Selvi Ananda Gibran, istri Wakil Presiden Republik Indonesia, dalam kegiatan yang mendapat perhatian nasional. Momentum ini semakin menegaskan posisi tenun Lero sebagai produk kerajinan lokal yang layak tampil di tingkat nasional.
Dengan ditetapkannya Asmaniah sebagai Perempuan Inspiratif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2025, pemerintah provinsi menegaskan pengakuan terhadap peran perempuan desa sebagai penjaga budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Dari pesisir Ujung Lero, lahir sosok perempuan tangguh yang kiprahnya menjaga warisan Mandar tetap hidup dan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Pinrang.

