PINRANG — Angin malam di pesisir Lanrisang berhembus membawa aroma laut yang khas, menyapu wajah-wajah penuh harap yang memadati Lapangan Lakori, Desa Barangpalie. Di bawah langit negeri penghasil udang yang subur—ribuan pasang mata menjadi saksi bahwa cahaya Al-Qur’an tak pernah redup di Bumi Lasinrang.
Selama enam hari, mulai 15 hingga 20 Januari 2026, Kecamatan Lanrisang bertransformasi menjadi pusat gravitasi spiritual. Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXIV Tingkat Kabupaten Pinrang bukan sekadar kompetisi mencari suara terindah, melainkan sebuah manifestasi keteguhan daerah dalam menjaga akar religiusitas di tengah gempuran zaman yang kian pragmatis.
Lebih Dari Sekadar Seremoni: “Rasa Provinsi” di Tingkat Kabupaten
Malam pembukaan pada 15 Januari menjadi momen yang tak terlupakan. Defile 12 kafilah kecamatan melintas dengan khidmat, disambut oleh lebih dari sepuluh ribu pengunjung yang memadati arena hingga ke tepian panggung. Antusiasme masyarakat yang tumpah ruah ini seolah menghapus batas antara pejabat dan rakyat, menyatu dalam gema ayat suci.
Kemegahan acara ini bahkan membuat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, M.Pd., tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Ia menilai standar pelaksanaan MTQ di tingkat desa ini telah melampaui ekspektasi, bahkan setara dengan level yang jauh lebih tinggi.
“Saya saksikan malam ini, kegiatan tingkat kabupaten ini rasa-rasanya tingkat provinsi. Ini bukti kolaborasi seluruh stakeholder yang luar biasa,” ujar Dr. H. Ali Yafid dengan nada bangga.
Lebih jauh, ia menyoroti konsistensi Pemerintah Kabupaten Pinrang. Di saat beberapa daerah lain mungkin mengendurkan perhatian pada proses seleksi, Pinrang justru memperketat kualitas pembinaan.
“Pinrang menunjukkan komitmen yang luar biasa. Di saat ada 8 bupati di Sulawesi Selatan yang tidak menyelenggarakan seleksi, Pinrang tetap konsisten. Anggaran yang dikeluarkan untuk membumikan Al-Qur’an pasti membawa keberkahan yang melebihi nilainya,” tambah Ali Yafid, menegaskan bahwa investasi spiritual tak akan pernah merugi.
Benteng Nilai di Tengah Globalisasi
Di balik kemeriahan panggung dan tata cahaya yang artistik, MTQ XXXIV mengusung misi ideologis yang berat melalui tema: “Al-Qur’an sebagai inspirasi nilai religius menuju pembangunan generasi Kabupaten Pinrang yang berkelanjutan, inklusif, maju, dan mandiri.”
Bupati Pinrang, H. Andi Irwan Hamid, S.Sos., dalam sambutannya menekankan bahwa Al-Qur’an harus menjadi kompas moral. Ia tidak ingin MTQ hanya menjadi rutinitas seremonial belaka tanpa bekas di hati masyarakat.
“Al-Qur’an adalah benteng dalam menghadapi derasnya globalisasi,” tegas Bupati Irwan Hamid.
Ia juga memberikan instruksi tegas kepada Dewan Hakim untuk menjaga objektivitas penilaian. Bagi Bupati, kejujuran di meja penjurian adalah cerminan integritas daerah. “Jangan karena faktor kedekatan atau kekeluargaan. Integritas Anda adalah kunci kualitas juara kita di tingkat Provinsi nanti,” pesannya dengan nada serius.
Resiliensi dan Gotong Royong di Tengah Badai
Namun, iman tak pernah lepas dari ujian. Rentang pelaksanaan MTQ ini sempat diwarnai oleh cuaca ekstrem. Angin kencang dari pesisir sempat menerjang dan merusak deretan tenda kafilah yang telah disiapkan. Momen ini justru menjadi panggung pembuktian bagi nilai gotong royong warga Lanrisang dan kesigapan panitia.
Sekretaris Daerah Kabupaten Pinrang sekaligus Ketua Panitia, Andi Calo Kerrang, S.I.P., M.Si., mencatat peristiwa tersebut bukan sebagai hambatan yang mematahkan semangat, melainkan perekat persaudaraan. Perbaikan dilakukan dengan cepat, bahu-membahu antara panitia, aparat, dan warga lokal.
“Keberhasilan teknis MTQ XXXIV adalah bukti bahwa Al-Qur’an mampu menyatukan kita. Ini adalah wadah syiar Islam yang memperkuat persaudaraan dan kebersamaan,” ungkap Andi Calo Kerrang.
Berkat kerja keras tersebut, seluruh cabang lomba—mulai dari Tilawah, Hifzil Qur’an, hingga Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ)—tetap bergulir sesuai jadwal tanpa mengurangi kualitas kompetisi.
Harmoni Sejarah dan Edukasi Budaya
Selain lantunan ayat suci, MTQ XXXIV juga menjadi etalase budaya yang edukatif. Penampilan Tari Kolosal “Petta Malae” membawa penonton menyelami sejarah masuknya Islam di tanah Bugis Pinrang, mengisahkan Tokoh yang menyatukan Kerajaan Suppa dan Sawitto.
Simbolisme “tanah yang bersatu” divisualisasikan apik oleh ratusan pelajar, mengingatkan bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan beriringan dalam harmoni. Edukasi sejarah ini menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa nilai religiusitas telah menjadi akar kepemimpinan di Pinrang sejak berabad-abad lampau.
Berkah Ekonomi bagi Tuan Rumah
Kesuksesan acara ini tak lepas dari peran tuan rumah. Camat Lanrisang, Bachrum Syah, S.S.T.P., M.Si., mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. Bagi Lanrisang, menjadi tuan rumah bukan hanya soal kehormatan, tapi juga keberkahan ekonomi bagi masyarakat kecil.
“Kami sangat bangga dan terharu melihat antusiasme masyarakat. MTQ ini tidak hanya sukses secara syiar, tetapi juga menjadi oase ekonomi bagi UMKM lokal kami. Perputaran uang di pasar dan rumah-rumah warga yang menjadi homestay menunjukkan keberkahan Al-Qur’an mengalir nyata ke masyarakat Lanrisang,” ujar Bachrum Syah dengan wajah berseri.
Masyarakat Desa Barangpalie dengan sukarela membuka pintu rumah mereka bagi para kafilah, mencerminkan nilai luhur pemuliaan tamu yang diajarkan dalam Islam.
Peta Kekuatan: Dominasi Mattiro Sompe
Saat bedug penutupan ditabuh pada 20 Januari 2026, sejarah kembali terukir. Kecamatan Mattiro Sompe, di bawah kepemimpinan Camat Andi Romlan Nasir, berhasil mempertahankan gelar Juara Umum untuk ketiga kalinya secara berturut-turut (hat-trick).
Kafilah Mattiro Sompe tampil sangat dominan dengan mengamankan perolehan 124 poin, hasil dari 20 medali emas, 6 perak, dan 6 perunggu. Capaian ini menempatkan mereka jauh di atas tuan rumah Lanrisang yang harus puas di posisi kedua.
Berikut adalah daftar lengkap 7 Besar Peringkat Akhir pada MTQ XXXIV Kabupaten Pinrang Tahun 2026, yang sekaligus menjadi peta evaluasi pembinaan keagamaan di Bumi Lasinrang:
- Kecamatan Mattiro Sompe (124 Poin)
- Kecamatan Lanrisang (60 Poin)
- Kecamatan Paleteang (44 Poin)
- Kecamatan Watang Sawitto (23 Poin)
- Kecamatan Tiroang (21 Poin)
- Kecamatan Patampanua (14 Poin)
- Kecamatan Cempa (14 Poin)
Prestasi ini mengukuhkan Mattiro Sompe sebagai barometer pembinaan tilawatil Qur’an di Pinrang saat ini.
Estafet Menuju Maros
Kendati demikian, panggung MTQ di Lapangan Lakori hanyalah langkah awal. Para jawara, baik dari Mattiro Sompe, Lanrisang, maupun kecamatan lainnya, kini memikul amanah baru: membawa nama harum Bumi Lasinrang ke MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros pada April mendatang.
Lampu panggung mungkin telah dipadamkan, dan tenda-tenda kafilah telah dibongkar. Namun lebih dari itu, suksesnya acara di Lanrisang meninggalkan pesan mendalam: bahwa di tengah gempuran modernisasi, Al-Qur’an tetap menjadi jangkar yang menyatukan, mendidik, dan menyejahterakan masyarakat Pinrang menuju cita-cita Baldatun Thayyiibatun Wa Rabbun Ghafur.
