PINRANG – Di tengah hamparan perkebunan Kecamatan Patampanua, sebuah transformasi ekonomi tengah berlangsung. Batang pisang yang selama ini dianggap sampah organik dan dibiarkan membusuk, kini bermetamorfosis menjadi karya seni (kriya) bernilai tinggi. Perubahan dari limbah menjadi berkah inilah yang menjadi sorotan utama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pinrang.
Ketua Dekranasda Pinrang, Hj. Sri Widiati A. Irwan, saat meninjau langsung lokasi pengrajin pada Rabu (21/1), menegaskan komitmennya untuk memacu potensi ini agar menjadi produk unggulan daerah yang siap bersaing di pasar nasional.
Dari Batang Semu Menjadi Kriya Bermutu
Dalam kunjungannya, Hj. Sri Widiati tampak antusias mengamati proses detail pengolahan serat. Ia mengapresiasi ketekunan warga yang mampu mengubah material “batang semu”—yang berongga dan basah—menjadi serat kuat untuk bahan baku tas, kotak tisu, hingga dekorasi interior.
“Kriya seperti ini memiliki potensi luar biasa. Jika dikelola dengan manajemen yang tepat, ini bukan hanya soal seni, tetapi menjadi lokomotif baru bagi perekonomian keluarga dan daerah,” ujar Hj. Sri Widiati.
Tiga Strategi Utama Dekranasda
Guna memastikan transformasi ini berjalan sukses, Dekranasda Pinrang menyiapkan tiga strategi kunci:
- Pembinaan Kualitas: Pelatihan intensif agar finishing produk halus dan sesuai standar pasar modern.
- Akses Pasar Luas: Membuka jalur distribusi agar produk kriya Patampanua bisa masuk ke pameran nasional hingga platform digital.
- Dampak Berkelanjutan: Mendorong model bisnis yang ramah lingkungan (eco-friendly) sekaligus padat karya.
Langkah strategis ini diharapkan mampu menduplikasi kesuksesan daerah lain, di mana kerajinan berbasis serat alam terbukti mampu mendongkrak omzet pengrajin secara signifikan. Kini, dengan dukungan penuh pemerintah, kriya pelepah pisang Pinrang siap naik kelas menjadi primadona baru Bumi Lasinrang.




















Foto : Wawan PP