PINRANG – Suasana Studio Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL) 92.4 FM yang biasanya tertib dan formal, mendadak berubah riuh rendah penuh keceriaan pada Sabtu (7/2/2026). Puluhan pasang kaki mungil melangkah antusias memasuki ruang siaran, membawa energi baru dalam program Outing Class yang digelar oleh TK Islam Plus E-School Pinrang.
Mengusung tema “Petualangan Siaran Cilik”, kunjungan ini bukan sekadar wisata edukasi biasa. Ini adalah panggung keberanian bagi anak-anak usia dini untuk memegang mikrofon, menyapa dunia, dan menyuarakan mimpi-mimpi besar mereka—mulai dari profesi klasik seperti polisi dan dokter, hingga cita-cita unik bin ajaib menjadi seorang “Sultan”.
Menjadi “Penyiar Cilik” Dadakan
Amar, penyiar Radio SBL yang bertugas pagi itu, membuka siaran dengan nada takjub. Kehadiran sekitar 20 siswa dari jenjang Playgroup, TK A, dan TK B membuat atmosfer studio terasa lebih hidup. Getaran suara anak-anak yang berebut ingin bicara menciptakan harmoni yang unik di frekuensi 92.4 FM.
“Kita kedatangan tamu yang begitu luar biasa, studio langsung ramai ya dengan kehadiran mereka,” sapa Amar mengawali perbincangan hangat tersebut.
Para siswa tidak datang sendiri. Mereka didampingi oleh para guru yang dengan sabar menuntun mereka berinteraksi dengan alat-alat siaran. Dua di antaranya, Nurul Azizah (Bunda Nurul) dan Bunda Ana, berbagi cerita tentang dinamika mendidik anak-anak usia emas (golden age). Bagi mereka, menghadapi karakter anak yang beragam adalah tantangan yang manis sekaligus menguji kesabaran.
“Seru pastinya seru ya karena anak-anak ada saja pasti kelakuannya, pertanyaan-pertanyaan lucunya. Jadi seperti itu, gampang-gampang susah,” ujar Bunda Nurul sembari tersenyum melihat tingkah polah anak didiknya.
Momen Humanis: Dari Kaos Kaki Hilang hingga Curahan Hati
Di balik keceriaan outing class, terungkap sisi humanis hubungan antara guru dan murid di TK Islam Plus E-School. Menjadi guru TK ternyata berarti harus siap menjadi “ibu kedua” yang serba tahu. Kedekatan emosional ini terbangun melalui hal-hal sederhana namun krusial, seperti mengurus barang-barang kecil yang sering tercecer.
“Belajar sabar, belajar untuk lebih memperhatikan pretelan-pretelan kecilnya mereka saja kalau hilang itu luar biasa sekali, kayak kaos kaki, sendal, sepatu, topi. Nah itu pasti ujung-ujungnya ‘Bunda ini di mana, Bunda di mana?’,” cerita Bunda Nurul disambut tawa penyiar.
Lebih dalam lagi, para guru seringkali menjadi pelabuhan emosi bagi anak-anak. Ada ikatan kepercayaan yang kuat, membuat para siswa merasa aman menyampaikan perasaan yang mungkin sulit mereka ungkapkan di rumah.
“Iya, lebih kebanyakan ini sih perasa ada yang curhat tentang perasaannya, kayak apa yang dia inginkan sebenarnya di rumah itu kadang mereka tidak dapatkan seperti itu. Jadi mungkin kalau disampaikan ke orang tuanya mungkin agak apa ya, mereka takut mungkin,” tambah Bunda Nurul dengan nada empati.
Celoteh Jenaka: Cita-Cita Sultan dan Imam Masjid
Sorotan utama acara ini tentu saja saat mikrofon diserahkan langsung kepada anak-anak. Jawaban-jawaban polos dan tak terduga meluncur deras, memancing gelak tawa di seluruh ruang studio.
Salah satu siswa bernama Syafiq menunjukkan bakat religiusnya dengan melafalkan Asmaul Husna secara fasih di udara. Namun, saat sesi tanya jawab cita-cita dimulai, ia memberikan jawaban yang sangat “kekinian”.
Amar: “Cita-citanya Syafiq apa, jadi…?”
Syafiq: “Jadi Sultan,” jawabnya singkat nan mantap.
Tak kalah menarik, ada Sahud yang memiliki visi mulia. Di saat teman-temannya ingin menjadi aparat, ia memilih jalan dakwah.
Amar: “Sahud nanti cita-citanya mau jadi apa?”
Sahud: “Imam masjid.”
Karakter unik lainnya muncul dari Alfatih, bocah berusia 6 tahun yang ingin menjadi polisi. Momen jenaka terjadi saat ia ditanya soal makanan kesukaan oleh sang penyiar.
Amar: “Ibu kalau lihat Alfatih nih suka makan apa Alfatih?”
Alfatih: “Burger,” jawabnya tanpa ragu.
Ada pula Queen, siswi yang juga aktif di dunia modeling. Meski fasih berpose di depan kamera, ia tetap teguh pada impiannya menjadi petugas medis, namun dengan spesifikasi yang jelas. “Dokter kecantikan,” cetus Queen.
Dukungan Manajemen: Radio Sebagai Media Edukasi
Kunjungan ini mendapat apresiasi langsung dari manajemen Radio SBL. Direktur Utama Radio SBL, Fajar Bakri, menyambut hangat inisiatif TK Islam Plus E-School. Menurutnya, radio pemerintah memiliki fungsi sebagai media edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak.
“Kehadiran adik-adik dari TK Islam Plus E-School ini menjadi bukti bahwa radio tetap menjadi media yang menarik dan edukatif bagi semua umur. Kami sangat mendukung kegiatan outing class seperti ini karena membantu anak-anak melatih kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi sejak dini,” ungkap Fajar Bakri.
Metode Pembelajaran Berbasis Asmaul Husna
Di sela-sela kelucuan anak-anak, Bunda Ana menjelaskan fondasi pendidikan di sekolah yang berlokasi di Jalan Ir. Juanda (pinggir sungai) ini. TK Islam Plus E-School menerapkan metode “Asmaul Husna” yang diintegrasikan ke dalam tema mingguan.
“Jadi satu modul itu berlaku atau digunakan selama 1 minggu ya, misalnya Ar-Rahman Ar-Rahim itu 1 minggu. Kami kaitkan dengan kegiatan-kegiatan bermain atau belajar yang sesuai dengan nama Allah,” jelas Bunda Ana.
Metode ini tidak hanya sekadar hafalan, melainkan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Jadi menyayangi sesama manusia, menyayangi makhluk lain, tumbuhan dan sebagainya,” tambahnya.
Undangan Terbuka: Kids Festival 2026
Menutup kunjungan edukatif tersebut, pihak sekolah mengumumkan agenda besar yang akan segera digelar, yakni “Kids Festival”. Acara ini dirancang sebagai wadah ekspresi bagi anak-anak se-Kabupaten Pinrang.
“Kalau kegiatan besarnya itu di E-School ada namanya Kids Festival. Kids Festival ini kami kasih ruang kepada peserta didik untuk menampilkan bakat dan minatnya seperti mungkin menari, menyanyi, hafalan surah, azan, fashion show,” jelas perwakilan sekolah.
Festival ini dijadwalkan berlangsung pada minggu kedua Februari. “Akan dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu, 13 dan 14 Februari. Di hari Jumat itu akan ada lomba mewarnai TK dan juga SD,” tutup Bunda Ana.
Penutup: Penyerahan Piagam dan Foto Bersama
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini ditutup dengan sesi yang khidmat namun penuh kekeluargaan. Sebagai bentuk apresiasi dan kenang-kenangan, dilakukan penyerahan piagam ucapan terima kasih dari pihak TK Islam Plus E-School kepada manajemen Radio SBL.
Sesi kemudian diakhiri dengan foto bersama di depan studio. Terlihat jajaran manajemen, penyiar, para guru (Bunda), serta seluruh siswa berpose ceria sembari meneriakkan yel-yel kebanggaan mereka.
Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan anak usia dini haruslah memerdekakan. Melalui interaksi langsung dengan dunia penyiaran, anak-anak tidak hanya belajar tentang teknologi komunikasi, tetapi juga belajar bahwa suara dan mimpi mereka—setinggi apapun itu—layak untuk didengar oleh dunia.





