PINRANG, SBL – Sisa-sisa badai dan guyuran hujan deras yang membasuh Kabupaten Pinrang pagi itu tak sanggup mendinginkan semangat ratusan pelajar SMA sederajat. Sejak pagi buta, wajah-wajah penuh harap dari pelosok Bumi Lasinrang—mulai dari pesisir Supa hingga pegunungan Lembang—mulai memadati lokasi acara.
Mereka datang bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan membawa misi besar: menakar kemampuan diri demi mengamankan satu kursi di perguruan tinggi impian.
Kerukunan Mahasiswa Pinrang Universitas Hasanuddin (KMP Unhas) kembali menggelar agenda tahunan bertajuk “Sosialisasi & Tryout Akbar KMP Unhas”. Kegiatan ini menjadi oase di tengah kegelisahan siswa kelas XII yang akan segera menghadapi seleksi nasional. Bagi para mahasiswa rantau yang tergabung dalam KMP Unhas, ini adalah bentuk pengabdian nyata untuk memastikan regenerasi intelektual dari kampung halaman tidak terputus.
Ambisi “Memerahkan” Kampus Merah
Ketua Umum KMP Unhas Periode 2025-2026, Rian Bin Ajang, dalam sambutannya membakar semangat para peserta. Ia secara gamblang mengungkapkan ambisi besar organisasi untuk melihat putra-putri terbaik Pinrang mendominasi almamater kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan tersebut.
“Khususnya kami ingin di Unhas itu dikuasai sama orang Pinrang. Toh sekarang Rektornya Unhas sudah orang Pinrang. Jadi kalau bisa kita kasih penuh lagi mahasiswa dengan orang Pinrang,” ujar Rian yang disambut riuh tepuk tangan peserta.
Rian bahkan melontarkan kelakar bermakna dalam mengenai kecintaan warga Pinrang terhadap Unhas.
“Kalau orang bilang, kalau bisa kita kasih pindah Unhas di Pinrang. Kalau kampusnya tidak bisa dikasih pindah, tapi bisa dengan cara kita kasih penuh orang Pinrang di Makassar, di Unhas,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa tryout ini adalah “laboratorium” penting bagi siswa untuk memetakan skor dan kemampuan mereka sebelum bertarung di medan seleksi nasional yang sesungguhnya.
Petuah Humanis: IQ Saja Tidak Cukup
Hadir membuka acara mewakili Bupati Pinrang, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, H. Syahrudin ST., M.Si. memberikan perspektif yang menyentuh sisi humanis para pelajar. Alih-alih bicara kaku soal kebijakan, ia memberikan petuah selayaknya orang tua kepada anaknya.
Syahrudin menekankan bahwa kesuksesan seorang pelajar tidak hanya dipahat oleh kecerdasan intelektual semata.
“Kita tahu bahwa kecerdasan itu ada tiga: kecerdasan intelektual satu, kecerdasan emosional dua, dan kecerdasan spiritual itu tiga,” tutur Syahrudin.
Ia menitipkan pesan mendalam dalam bahasa daerah yang kental, mengingatkan para siswa tentang pentingnya rida orang tua sebagai “jimat” kelulusan.
Selain itu, Syahrudin memberikan peringatan keras namun penuh kasih sayang mengenai pentingnya bersikap realistis dalam memilih jurusan. Ia menyentil fenomena mahasiswa yang memaksakan diri masuk ke jurusan bergengsi karena ego atau gengsi semata, namun berakhir dengan kegagalan.
“Tapi di dalam sana itu ada barier (hambatan)… Ngotot sekali pilih Kedokteran, oke pilih, lulus trek dengan berbagai macam cara masuk. Dia semester 4 selesai, drop out… Karena kenapa? Memang tidak bisa. Tapi ini egonya, egonya terlalu tinggi,” ungkapnya.
Ia menyarankan agar setiap siswa memiliki strategi cerdas dengan menyiapkan “Plan B” dan “Plan C” yang sesuai dengan minat dan bakat, bukan sekadar mengikuti tren.
Simulasi Standar Nasional di Tengah Tantangan
Meski sempat terkendala teknis akibat cuaca buruk yang memengaruhi jaringan internet, panitia yang dipandu oleh MC Hijrah Audina dan Noval sigap membantu peserta.
Tryout tahun ini menggunakan sistem penilaian yang modern, yakni Item Response Theory (IRT)—metode yang sama digunakan dalam UTBK nasional. Selama 3 jam 15 menit, peserta berjibaku dengan 7 subtes yang menantang. Menariknya, sistem ini juga menyediakan fitur prediksi peluang kelulusan secara real-time.
“Nanti teman-teman akan menginput misalnya saya mau lanjut di Teknik Industri Unhas… nanti di akhir akan ada keluar skor dan peluang lulus atau tidak lulus,” jelas salah satu panitia teknis.
Kolaborasi Digital dan Masa Depan
KMP Unhas juga menggandeng mitra strategis untuk memudahkan akses digital peserta. Aro Putro Wicaksono, perwakilan mitra penyelenggara dari Pare-pare, menegaskan dukungannya terhadap kemajuan pendidikan di daerah.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari komitmen kami untuk memajukan pendidikan nasional dan juga untuk memajukan akses dunia digital di kalangan pelajar,” jelas Aro.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Saudara Fausan. Di luar gedung, genangan air sisa hujan mungkin masih terlihat, namun di dalam ruangan, api semangat dan tekad para calon pemimpin masa depan Bumi Lasinrang telah menyala dengan terang.
Penulis: Tim Redaksi SBL












