PINRANG, Suara Bumi Lasinrang – Aroma kopi dan diskusi hangat menyelimuti Cafe Exotico pada Selasa malam (11/02/2026). Peringatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 yang digelar HMI Cabang Pinrang berlangsung semarak, mengubah kafe tersebut menjadi panggung pertemuan gagasan antara birokrat, politisi, dan aktivis.
Mengusung tema besar “Khidmat HMI: Partisipasi HMI untuk Pembangunan Daerah Kabupaten Pinrang,” acara ini dirangkaikan dengan Regional Strategic Talk dan pemutaran film biopik pendiri HMI, Lafran Pane. Disiarkan langsung oleh Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL) melalui berbagai kanal digital dan frekuensi 92.4 FM, diskusi ini menjadi jembatan transparansi antara mahasiswa, alumni, dan pemerintah daerah.
Deretan Tokoh Lintas Sektor Ramaikan Forum
Aula acara dipadati tidak hanya oleh kader “Hijau Hitam”, melainkan juga jajaran pejabat teras Pemerintah Kabupaten Pinrang, legislatif, hingga pimpinan institusi pendidikan dan penyelenggara pemilu. Kehadiran tokoh-tokoh penting lintas sektor ini menegaskan posisi strategis HMI di Bumi Lasinrang.
Mewakili Bupati dan Wakil Bupati Pinrang, Sekretaris Daerah (Sekda) Andi Calo Kerrang hadir memimpin rombongan eksekutif. Kehadirannya didampingi oleh figur-figur strategis seperti Asisten III Pemkab Pinrang, Dr. Syamsul Marlin, yang malam itu memegang peran ganda sebagai pejabat pemerintah sekaligus tuan rumah senior dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum MD KAHMI Pinrang.
Jajaran pemerintahan semakin lengkap dengan kehadiran Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga, A. Suyuti, serta Kepala Dinas P2KBP3A dr. Ramli yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum MD KAHMI Pinrang, serta perwakilan dari Badan Kesbangpol.
Dari unsur legislatif, anggota DPRD Pinrang Amri Manangkasi tampak hadir bersama rekannya sesama legislator, Hastan Matanette, yang juga merupakan alumni HMI. Sinergi antar-lembaga juga terlihat dengan kehadiran unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), yang meliputi perwakilan Dandim 1404 Pinrang, perwakilan Kejaksaan, serta Kasat Intel dan Kasat Reskrim yang hadir mewakili Kapolres Pinrang.
Acara ini juga menjadi ruang silaturahmi bagi para pemimpin institusi lain, terlihat dari kehadiran Ketua KPU Pinrang, Ali Jodding, beserta jajaran komisionernya, serta Ketua Yayasan Institut Cokroaminoto Pinrang, Sandrawali Mukaddas. Di tengah para pejabat, semangat aktivisme tetap menyala dengan kehadiran perwakilan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung serta berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), yang duduk membaur bersama Ketua Umum HMI Cabang Pinrang, Chairil, dan seluruh kader serta alumni HMI.
Gelak Tawa dari “Pengakuan Dosa” Sekda Pinrang
Suasana formal dan penuh tokoh penting tersebut seketika mencair ketika Sekretaris Daerah Kabupaten Pinrang, Andi Calo Kerrang, mengambil mikrofon. Bukan pidato birokratis yang kaku yang ia sampaikan, melainkan sebuah pengakuan jujur yang memancing gelak tawa seluruh hadirin.
Mengenang masa mudanya di tahun 1989, Andi Calo membuka rahasia kecil tentang hubungannya dengan HMI. Ia mengaku pernah mencoba menjadi bagian dari himpunan ini, namun seleksi alam berkata lain.
“Saya juga pernah masuk HMI cuma karena tidak sanggup diterol, tidak sanggup digembleng sampai tengah malam sampai pagi-pagi kami sementara tidur disiram-siram air,” kenangnya sembari tertawa.
Istilah “diterol” (digembleng fisik dan mental) menjadi memori kolektif yang lekat bagi para kader. Andi Calo dengan rendah hati mengakui bahwa ketahanan fisik dan mentalnya kala itu belum cukup tangguh untuk menuntaskan proses kaderisasi yang terkenal keras.
“Makanya saya salut ke teman-teman anak-anakku sekalian para pengurus HMI. Saya melarikan diri dan tidak pulang-pulang lagi, saya dicari-cari di kampus saya selalu sembunyi,” ujarnya.
Meski sejarahnya dengan HMI singkat, Andi Calo menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pinrang tidak pernah alergi terhadap kritik mahasiswa. Ia justru menantang HMI untuk terus menjadi mitra strategis yang menawarkan gagasan konstruktif.
Ironi di Balik Prestasi: Atlet Juara Dunia yang Putus Kuliah
Suasana jenaka berubah menjadi hening dan serius ketika moderator melempar sebuah fakta lapangan yang menohok. Isu yang diangkat adalah nasib seorang mahasiswa Institut Cokroaminoto Pinrang (ICP)—juga kader HMI—yang harus putus kuliah karena kendala biaya, padahal ia baru saja menjuarai kompetisi pencak silat tingkat internasional.
Ketua MD KAHMI Pinrang, Dr. Syamsul Marlin, bereaksi keras. Ia menyoroti adanya keterputusan mata rantai pembinaan di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) daerah.
“Ini memang harus ditelusuri ini barang. Bagaimana pembinaan KONI terhadap cabor (cabang olahraga). Ada atlet kita yang sangat berprestasi lepas begitu saja dan ketika dia berprestasi tidak mendapatkan apa-apa,” tegas Syamsul.
“Pasti ada yang salah, perlu diinvestigasi ini. Sedangkan membina cabur saja itu punya anggaran walaupun sedikit, lebih-lebih mereka yang berprestasi seperti ini, kenapa tidak bisa, kenapa sampai lepas dari apresiasinya Pak Bupati,” tambahnya.
Jawaban Pemerintah: Birokrasi dan Keterbatasan Fiskal
Menanggapi sorotan tajam tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga, A. Suyuti, menjelaskan bahwa pemerintah daerah bekerja berdasarkan struktur kelembagaan yang terpisah.
“Kalau dia cenderung ke profesi dalam hal ini prestasi keolahragaan maka penyalurannya melalui jalur Komite Olahraga Nasional Indonesia dalam hal ini KONI Kabupaten Pinrang,” jelas Suyuti.
Suyuti menegaskan bahwa dinasnya melayani organisasi kepemudaan secara institusional, sementara prestasi atlet adalah ranah KONI. Namun, ia tidak menampik bahwa kondisi fiskal daerah menjadi tantangan, meski pemerintah tetap berupaya memberikan penghargaan (reward) bagi peraih medali sesuai mekanisme yang ada.
Kritik Metode Gerakan: “Jangan Lagi Bakar Ban”
Anggota DPRD Pinrang, Amri Manangkasi, turut memberikan pandangannya. Ia mengajak HMI untuk melakukan autokritik terhadap metode penyampaian aspirasi agar lebih relevan dengan zaman.
“Seiring perkembangan zaman metodologi demonstrasi ini harus berubah, tidak lagi sebenarnya bakar ban di jalan menutup jalan menyusahkan orang. Itu harus ada formulasi baru gerakan mahasiswa,” ujar Amri.
Ia mendorong partisipasi mahasiswa dalam pembangunan diperluas melalui riset, advokasi kebijakan, dan dialog berbasis data.
HMI Sebagai Mediator Rakyat
Menutup rangkaian dialektika tersebut, Ketua Umum HMI Cabang Pinrang, Chairil, menegaskan peran organisasi yang dipimpinnya sebagai jembatan aspirasi.
“Kita sebagai mahasiswa ataupun Himpunan Mahasiswa Islam, kita hanya mampu memberikan inspirasi kepada seluruh masyarakat Kabupaten Pinrang. Kemudian yang kedua adalah mediator. Artinya bagaimana HMI itu turun ke masyarakat menyampaikan apa keluhan-keluhan yang timbul di masyarakat,” ungkapnya.
Kegiatan malam itu ditutup dengan pemutaran film “Lafran”, sebuah biopik yang mengingatkan kembali pada nilai-nilai kesederhanaan dan integritas Lafran Pane. Di usia ke-79 ini, kehadiran tokoh lintas sektor di Cafe Exotico membuktikan bahwa HMI Pinrang tetap menjadi magnet pergerakan yang diperhitungkan dalam mengawal pembangunan daerah.










Penulis: Tim Redaksi Radio Suara Bumi Lasinrang
Foto: istimewa