PINRANG, Suara Bumi Lasinrang – Malam di Bumi Lasinrang tak lagi sekadar senyap yang sesekali dipecahkan oleh tabuhan perkusi bambu. Di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini, ada denyut baru yang menyertai gema Mattuda Subuh—seni membangunkan sahur yang telah lama mengakar di Pinrang. Tahun 2026 menandai sebuah transformasi kultural: tradisi lawas itu kini hadir dalam genggaman digital.
Perubahan itu bernama SBL Patrol Tracker. Sebuah sistem informasi berbasis web yang lahir untuk mengubah wajah patrol jalanan yang dulunya sporadis, menjadi sebuah ekosistem yang terukur, transparan, dan profesional.
Jantung Digital di Tangan Warga
Jika dahulu warga harus menebak-nebak kapan rombongan patrol favorit mereka melintas, kini ketidakpastian itu sirna lewat laman sbl.pinrangkab.go.id/patrolpinrang. Platform ini tak ubahnya “jantung digital” yang memompa informasi dari seratus lebih kelompok patrol—mulai dari pesisir hingga pelosok kecamatan—langsung ke layar ponsel warga.
Sistem ini meruntuhkan sekat birokrasi. Antarmuka yang dirancang inklusif memungkinkan siapa saja, dari generasi tua hingga Gen-Z, memantau posisi tim patrol secara real-time melalui peta digital. Tak hanya soal keamanan rute konvoi, fitur ini mendekatkan penggemar dengan idolanya tanpa jarak fisik.
Panggung OASE: Sisi Lain Sang Penjaga Malam
Di balik riuh rendah perkusi, ada cerita manusia yang sering luput dari perhatian. Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL) menangkap celah ini melalui program OASE Ramadhan (Obrolan Asyik, Santai, dan Edukatif).
Program jelang berbuka ini menjadi panggung intim bagi para pegiat seni patrol. Di sini, mereka tidak sedang memukul gendang, melainkan duduk berbincang tentang filosofi alat musik, hingga suka duka “menjaga” warga terjaga di sepertiga malam. Disiarkan secara hibrid—melalui gelombang radio analog untuk pelosok desa dan live streaming visual untuk warganet—OASE menegaskan bahwa patrol bukan sekadar polusi suara, melainkan warisan budaya bernilai edukasi tinggi.
Transparansi dan Ekonomi Kreatif: Dari Koin ke QRIS
Salah satu lompatan paling humanis dari digitalisasi ini adalah modernisasi budaya “nyawer“. Pemandangan warga yang berlarian mengejar mobil patrol demi menyelipkan uang tunai—yang kerap membahayakan keselamatan—perlahan mulai ditinggalkan.
SBL Patrol Tracker menghadirkan fitur saweran terintegrasi QRIS. Cukup dengan memindai kode unik pada profil tim, apresiasi warga mengalir langsung ke dompet digital kas tim.
“Langkah ini menegaskan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Melalui aplikasi ini, ekosistem patrol kini dikelola lebih profesional, transparan, dan terintegrasi,” ujar Andi Arham, admin @patrolpinrang.
Ucapan tersebut bukan isapan jempol. Fitur klasemen dan data real-time membuat kompetisi antar-kelompok patrol menjadi akuntabel. Tak ada lagi skor “siluman”; prestasi para pemuda kreatif ini terpampang nyata, divalidasi oleh dukungan (voting) warga yang telah terverifikasi sistem.
Sinergi antara komunitas @patrolpinrang dan Radio SBL ini membuktikan satu hal penting: Identitas kedaerahan tidak harus tergerus oleh zaman. Di Pinrang, teknologi justru menjadi “pengeras suara” agar kearifan lokal terdengar lebih nyaring, lebih beradab, dan lebih menyejahterakan pelakunya.
Gema Mattuda Subuh tetap sama, namun caranya menyapa zaman telah berbeda.





Redaksi Suara Bumi Lasinrang.
Suara Pinrang, Suara Kita!