LIVE • Radio SBL

👥 pendengar

Cahaya Harapan dari Kampung Bua: Saat Ribuan Warga Pinrang Bersimpuh Menjemput Ramadan

PINRANG – Halaman Musala Guru Bua di Kampung Bua, Kecamatan Mattiro Bulu, berubah menjadi lautan manusia pada Rabu sore. Ribuan warga Pinrang, mulai dari lansia yang berjalan perlahan hingga anak-anak yang duduk bersila di barisan depan, berkumpul dalam satu barisan doa. Lantunan shalawat menggema, menyambut Tabligh Akbar Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus penyambutan Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Di tengah himpitan ekonomi, tantangan sosial, dan berbagai problematika hidup yang kian berat, tabligh akbar ini menjelma menjadi “oase spiritual” bagi masyarakat kecil yang rindu akan ketenangan, penguatan iman, dan secercah harapan. Sejak sore, jamaah berdatangan bersama keluarga, menyiratkan kerinduan akan kebersamaan dalam nilai-nilai keagamaan.

Suara Rakyat: Pembangunan Bukan Hanya Soal Beton

Bagi masyarakat Pinrang yang hadir, keberadaan pemerintah di tengah mereka adalah bentuk pengakuan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur dan ekonomi semata, tetapi juga pada penguatan karakter dan nilai-nilai spiritual masyarakat. Bupati Pinrang, dalam sambutannya, menekankan bahwa fondasi daerah yang kuat justru terletak pada moralitas warganya.

Ia menegaskan bahwa peringatan ini adalah ruang refleksi untuk memperbaiki hubungan antara pemimpin dan rakyatnya. Peringatan Isra’ Mi’raj ini, menurutnya, adalah momentum refleksi bersama antara pemerintah dan rakyat.

“Peringatan Isra’ Mi’raj ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat kebersamaan,” ujar Bupati di hadapan ribuan jamaah yang menyimak khidmat.

Lebih lanjut, ia menitipkan pesan agar semangat gotong royong dan persatuan warga tidak luntur saat memasuki bulan suci nanti.

“Mari kita jadikan Ramadan sebagai bulan mempererat silaturahmi, saling membantu, dan memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Pesan ini menjadi angin segar bagi warga, mengisyaratkan bahwa stabilitas sosial dan kepedulian antar sesama adalah kunci utama memajukan Pinrang yang religius dan berdaya saing. Menurutnya, stabilitas sosial dan kekuatan moral masyarakat merupakan fondasi penting dalam mendukung program pembangunan daerah. Ia berharap sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat terus terjaga demi kemajuan Pinrang.

Sentilan Keras Ustadz Das’ad Latif: “Perubahan Dimulai dari Shalat”

Suasana makin hidup dan interaktif saat penceramah kondang, Ustadz Das’ad Latif, naik ke mimbar. Dengan gaya bicara khasnya—tegas, komunikatif, jenaka, namun sesekali menghujam jantung persoalan harian warga—ia mengingatkan bahwa perbaikan nasib dimulai dari sajadah.

“Kalau mau hidupmu berubah, perbaiki shalatmu. Jangan tunggu kaya baru rajin ibadah,” tegas Das’ad yang disambut anggukan setuju dan celetukan “betul!” dari jamaah.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berhenti meratapi nasib dan mulai mengambil tanggung jawab pribadi melalui disiplin. Dalam penekanan lainnya, ia mengingatkan pentingnya disiplin dan tanggung jawab pribadi.

“Jangan salahkan keadaan terus. Kadang yang perlu diperbaiki itu bukan nasib, tapi disiplin kita,” lanjutnya, memicu kesadaran kolektif.

Menjelang Ramadan yang tinggal menghitung hari, Das’ad menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik menahan lapar, melainkan revolusi akhlak dan pendidikan jiwa.

“Ramadan itu sekolah jiwa. Kalau lulus Ramadan tapi akhlak tidak berubah, berarti ada yang salah dengan puasanya.” Seruan untuk tetap optimistis pun menggema di tengah jamaah. “Jangan pernah merasa kecil di hadapan manusia. Yang penting besar di hadapan Allah.”

Transparansi Hadiah Umrah: Tangis Haru, Mimpi Kecil yang Menjadi Nyata

Puncak emosi jamaah meledak saat panitia memulai proses pengundian hadiah umrah. Di tengah keterbatasan ekonomi yang membuat mimpi ke Tanah Suci terasa jauh bagi banyak warga, transparansi panitia menjadi sorotan utama. Proses dilakukan secara terbuka dan disaksikan langsung oleh jamaah.

Masyarakat diajak menyaksikan langsung proses musyawarah yang jujur sebelum pengundian. Dalam dinamika tersebut, sempat terdengar pernyataan tegas untuk menjaga integritas acara.

Panitia pun membuka data secara gamblang mengenai nilai paket ibadah tersebut agar masyarakat paham betapa besarnya amanah yang diberikan.

“Satu orang umroh itu nilainya sekarang tiga puluh juta lima ratus ribu rupiah. Berarti untuk umroh hari ini dua dua ratus enam puluh empat juta,” ungkap pihak panitia merinci total nilai keseluruhan hadiah yang diundi malam itu.

Saat nama penerima pertama diumumkan, suasana hening berubah menjadi haru. Pekikan takbir menggema di langit Kampung Bua, diiringi isak tangis dari sebagian jamaah.

Bagi warga Pinrang yang beruntung, ini adalah “undangan Tuhan” yang tak ternilai harganya, sebuah mimpi besar yang seringkali tertunda oleh keterbatasan ekonomi. Bagi jamaah lainnya, momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesulitan, keberkahan selalu hadir bagi mereka yang menjaga iman.

Suara Hati Jamaah: “Mimpi yang Terjawab di Kampung Bua”

Di sudut tenda, seorang ibu rumah tangga, Rustina (45), tampak menyeka air matanya. Baginya, hadir di acara ini bukan sekadar mendengar ceramah, tapi mencari ketenangan di tengah sulitnya beban hidup sehari-hari.

“Mendengar Ustadz Das’ad tadi, rasanya seperti ditegur langsung. Kami di kampung sering merasa kecil karena kekurangan ekonomi, tapi diingatkan bahwa yang penting kita besar di hadapan Allah. Itu yang membuat saya pulang dengan hati yang lebih lapang,” ungkapnya dengan suara parau.

Kesan serupa dirasakan oleh para pemenang hadiah umrah. Bagi mereka, pengundian transparan ini adalah bukti bahwa keajaiban Tuhan bisa menyapa siapa saja, tanpa pandang bulu.

Penutup: Momentum Kebersamaan Menyambut Ramadan

Malam di Kampung Bua ditutup dengan jabat tangan erat antar warga. Tabligh Akbar ini menjadi bukti bahwa kekuatan masyarakat Pinrang terletak pada kebersamaan dan nilai religius yang terus dijaga. Pemerintah hadir, ulama memberi nasihat, dan masyarakat menjadi pusat dari seluruh rangkaian kegiatan.

Isra’ Mi’raj di Kampung Bua tahun ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang perjumpaan yang menguatkan iman, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan harapan menjelang Ramadan. Warga telah menjadi saksi bahwa ketika pemerintah, ulama, dan masyarakat duduk bersama, beban seberat apa pun akan terasa lebih ringan.

Laporan: Redaksi Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL)
Foto: BagianProtpim/Wawan

Memuat...
Memuat...
Menghitung Waktu
00:00:00
Waktu Imsak --:--
Buka Puasa --:--
🌙 Hikmah Hari Ini
Memuat Hikmah...

641546302_1240710741537061_5332751110127060299_n
Tak Hanya Fokus Infrastruktur, Wabup Pinrang Ajak Warga Makmurkan Masjid dan Kawal Pertanian di Safari Ramadan
PINRANG – Momen bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menjadi ajang bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pinrang...
1 Tahun BERIMAN
1 Tahun Pemerintahan BERIMAN: Dari Data ke Dampak, 5 Transformasi Nyata untuk Warga Pinrang
PINRANG — Satu tahun masa jabatan kerap identik dengan panggung seremoni dan selebrasi. Namun di Kabupaten...
638155743_1236632945278174_5871822297927605252_n
Pesan Teduh Tarawih Perdana: Bupati Pinrang Ajak Warga Perkuat Kepedulian Sosial hingga Singgung Bantuan Tepat Sasaran
PINRANG — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Al Munawwir, Kabupaten Pinrang, pada pelaksanaan salat...
633672099_1235782862029849_7597844006233112088_n
Cahaya Harapan dari Kampung Bua: Saat Ribuan Warga Pinrang Bersimpuh Menjemput Ramadan
PINRANG – Halaman Musala Guru Bua di Kampung Bua, Kecamatan Mattiro Bulu, berubah menjadi lautan manusia...
638036659_1235589328715869_2378056173243331016_n
Mengetuk Pintu Langit di Hari Jadi Ke-66: Saat Ribuan Warga Pinrang Larut dalam Doa dan Berkah Teknologi
PINRANG, SBL – Halaman Kantor Bupati Pinrang yang biasanya menjadi pusat administrasi, berubah menjadi...