PINRANG — Satu tahun masa jabatan kerap identik dengan panggung seremoni dan selebrasi. Namun di Kabupaten Pinrang, peringatan satu tahun pemerintahan Bupati H.A. Irwan Hamid dan Wakil Bupati Sudirman Bungi justru dikemas sebagai forum pertanggungjawaban berbasis data.
Alih-alih pesta politik, momentum ini dijadikan ruang evaluasi terbuka atas visi “Masyarakat Maju, Jaya, Beriman, dan Sejahtera”. Pemerintah daerah memaparkan capaian sekaligus tantangan secara terukur, menandai pendekatan yang lebih transparan dalam tata kelola pemerintahan.
Berikut lima transformasi yang diklaim menjadi fondasi perubahan di tahun pertama pemerintahan BERIMAN.
1. Evaluasi Terbuka: Akuntabilitas Berbasis Data
Pemerintah Kabupaten Pinrang menghadirkan sejumlah pihak independen untuk memotret kinerja secara objektif, mulai dari Badan Pusat Statistik hingga unsur pengendalian inflasi daerah.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Pinrang mencapai 5,17 persen (year on year) pada 2024. Di saat bersamaan, angka kemiskinan tercatat turun dari 8,55 persen pada 2024 menjadi 8,38 persen pada Maret 2025.
Pendekatan ini disebut sebagai langkah “evaluasi radikal”, di mana capaian tidak hanya diklaim secara internal, tetapi diuji melalui indikator makro dan dampak riil terhadap masyarakat.
2. Menguatkan Posisi sebagai Pilar Pangan Nasional
Sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan, Pinrang memperkuat perannya dalam menjaga stabilitas pasokan beras dan komoditas strategis. Produksi pertanian yang terjaga turut menopang distribusi ke berbagai daerah, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Pinrang disebut berhasil menjaga stabilitas harga beras, cabai, dan bawang di tengah fluktuasi permintaan. Stabilitas ini dinilai krusial dalam menjaga daya beli masyarakat.
3. Reformasi Birokrasi: Dari “Working Government” ke “Problem Solving Government”
Transformasi berikutnya menyasar manajemen kinerja internal. Pemerintah mendorong pergeseran paradigma dari sekadar penyerapan anggaran menuju penyelesaian masalah konkret warga.
Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kini diukur berdasarkan dampak, bukan sekadar output administratif. Di sektor pertanian, misalnya, indikator kinerja tak lagi hanya jumlah bantuan benih atau pupuk, tetapi peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dan produktivitas panen.
Langkah ini juga diiringi pembongkaran ego sektoral antar-OPD guna mempercepat koordinasi lintas sektor.
4. EPSS dan UHC Pratama 2026: Fokus pada Manusia
Awal 2026 menjadi momentum penting dengan capaian Indeks Penyelenggaraan Statistik Sektoral (EPSS) sebesar 2,60 atau predikat Baik dari BPS. Nilai ini menunjukkan penguatan kebijakan berbasis data (data-driven policy).
Tak hanya itu, Pinrang juga meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Pratama 2026. Status ini menggaransi mayoritas warga telah tercakup dalam jaminan layanan kesehatan, sehingga akses berobat ke puskesmas maupun rumah sakit tidak lagi terkendala biaya administrasi.
Bagi banyak warga, kebijakan ini dirasakan langsung dampaknya—mengurangi kekhawatiran saat menghadapi risiko kesehatan.
5. Menata “Ruang Hidup”: Infrastruktur Tani dan Pesisir
Pemerintah mengakui masih adanya tantangan, terutama ketimpangan akses wilayah pedesaan dan tekanan ekonomi di kawasan pesisir.
Sebagai respons, sejumlah program prioritas dijalankan:
- Perbaikan jalan tani dan normalisasi saluran irigasi guna menekan biaya logistik dan menjamin kelancaran distribusi hasil panen.
- Pemberdayaan ekonomi keluarga nelayan, khususnya di wilayah Suppa, dengan pendekatan ekonomi sirkular.
- Rencana pembangunan fasilitas cold storage untuk menjaga stabilitas harga komoditas saat musim panen raya maupun paceklik.
Pendekatan ini mengusung prinsip inklusif—tidak ada wilayah atau kelompok yang tertinggal.
Fondasi untuk Lompatan Berikutnya
Pemerintahan Irwan–Sudirman menempatkan tahun pertama sebagai fase pembenahan sistem dan peletakan fondasi. Ukuran keberhasilan, menurut pemerintah daerah, bukan sekadar deretan penghargaan, melainkan berkurangnya keluhan petani, lancarnya irigasi, stabilnya harga pangan, serta akses kesehatan yang merata.
Transformasi ini masih berada di tahap awal. Konsistensi, transparansi, dan keberlanjutan program akan menjadi penentu apakah fondasi tersebut mampu membawa Pinrang menuju lompatan pembangunan yang lebih besar dalam sisa masa jabatan.
(Redaksi Radio SBL)