PINRANG, SBL — Siapa sangka, puluhan donat yang awalnya hanya dititipkan di warung dapat berkembang menjadi usaha dengan puluhan pekerja dan jaringan penjualan lintas daerah? Atau sebuah kue ulang tahun buatan ibu justru menjadi awal lahirnya bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua?
Kisah-kisah tersebut terungkap dalam Podcast Pinrang Creative Network (PCN) edisi Womanpreneur Pinrang yang disiarkan Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL) 92.4 FM, Sabtu (19/9/2026).
Mengangkat tema “Inspirasi Usaha Cake & Bakery”, program yang dipandu Miah Jufri ini menghadirkan tiga perempuan pelaku usaha kuliner di Kabupaten Pinrang, yakni Suhaemi yang akrab disapa Kak Emy dari Lylo Donut & Bakery, Atifah atau Tifah dari Wanda Cake, serta Rahmah dari Rahmah Traditional Cake.
Ketiganya berbagi pengalaman tentang perjalanan merintis usaha, menghadapi kegagalan, menjaga kepercayaan pelanggan, hingga mengembangkan bisnis di tengah persaingan industri kuliner.
Menariknya, meskipun memiliki latar belakang dan perjalanan yang berbeda, ketiga pengusaha ini memiliki semangat yang sama: terus belajar, berinovasi, dan tidak takut memulai dari hal kecil.
Dari Puluhan Donat, Lylo Berkembang hingga Tiga Daerah
Kak Emy, pemilik Lylo Donut & Bakery, mengawali ceritanya dengan mengenang masa ketika kebutuhan ekonomi keluarga mendorongnya mencari peluang usaha.
Tanpa keahlian khusus dalam membuat kue, ia memberanikan diri mencoba membuat donat untuk dititipkan kepada penjual jajanan.
Percobaan pertamanya hanya menggunakan sekitar satu kilogram bahan yang menghasilkan kurang lebih 40 hingga 50 donat.
Di luar dugaan, donat tersebut mendapat sambutan positif dan habis terjual dalam waktu singkat. Dari situlah Kak Emy mulai melihat peluang untuk mengembangkan usaha.
Bersama suaminya, Kak Emy memperluas pemasaran dengan menitipkan donat di sejumlah tempat, termasuk kantin sekolah. Ia juga menghadirkan inovasi melalui penggunaan lapisan cokelat dan dekorasi karakter yang membedakan produknya dari donat yang sudah beredar di pasaran.
Nama Lylo sendiri terinspirasi dari anak ketiganya. Kak Emy mengenang kejadian lucu ketika sang anak kedapatan bersembunyi sambil memakan donat yang telah disiapkan untuk pesanan.
Seiring waktu, usaha yang berawal dari dapur rumah tersebut terus berkembang.
Kak Emy mengungkapkan bahwa Lylo kini memiliki tiga outlet yang berada di Pinrang, Pangkajene Kabupaten Sidenreng Rappang, serta Polewali Mandar.
Perkembangan usaha juga membawa dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Menurut penuturannya, unit usaha Lylo di Pinrang telah mempekerjakan sekitar 30 orang, sementara outlet di Sidrap dan Polewali Mandar masing-masing memiliki tiga pekerja.
Namun, memperluas bisnis ternyata tidak selalu berjalan mulus.
Kak Emy mengaku pernah menghadapi persoalan konsistensi kualitas produk ketika kegiatan produksi dilakukan di beberapa lokasi berbeda.
Setelah melakukan evaluasi, ia memutuskan memusatkan seluruh kegiatan produksi di Pinrang. Sementara itu, outlet di Sidrap dan Polewali Mandar difokuskan pada penjualan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas rasa sekaligus menekan biaya operasional.
Dari pengalamannya, Kak Emy menyampaikan pesan kepada siapa pun yang masih ragu untuk memulai usaha.
“Jangan ki tunggu hebat untuk memulai sesuatu. Tapi kalau memang ada kemauan, konsisten ki, insyaallah dikasih jalan.”
Menurutnya, keberanian memulai harus dibarengi kemauan belajar dan terus berinovasi agar usaha dapat berkembang.
Wanda Cake, Bermula dari Kue Ulang Tahun Buatan Ibu
Kisah berbeda datang dari Tifah, generasi kedua yang kini melanjutkan usaha keluarga, Wanda Cake.
Ia menceritakan bahwa cikal bakal bisnis tersebut bermula dari keinginan sederhana seorang ibu untuk membuatkan kue ulang tahun bagi anaknya.
Kue yang awalnya dibuat untuk perayaan keluarga ternyata menarik perhatian teman-teman dan kerabat yang hadir.
Dari sana, permintaan mulai berdatangan melalui promosi dari mulut ke mulut hingga akhirnya berkembang menjadi usaha yang memiliki toko sendiri.
Bagi Tifah, Wanda Cake bukan sekadar bisnis keluarga. Usaha yang dirintis ibunya memiliki peran penting dalam kehidupan mereka.
Ia mengungkapkan bahwa hasil usaha tersebut turut membantu membiayai pendidikan anak-anak dalam keluarganya hingga menyelesaikan kuliah.
Kini, Tifah bersama saudaranya mendapat kepercayaan untuk melanjutkan bisnis tersebut.
Ia mengakui bahwa meneruskan usaha yang telah memiliki nama menghadirkan tantangan tersendiri. Selain mempertahankan kualitas dan kepercayaan pelanggan lama, mereka juga harus mampu mengikuti perkembangan selera konsumen.
Wanda Cake yang sebelumnya identik dengan kue ulang tahun kini mulai menghadirkan produk lain, termasuk roti dan donat, serta menjadi pemasok produk untuk kafe.
Tifah juga mulai memperkuat sistem produksi melalui standar resep, prosedur kerja, dan pengawasan kualitas.
Menurutnya, bisnis keluarga tidak cukup hanya mengandalkan nama besar yang telah dibangun generasi sebelumnya. Inovasi harus terus dilakukan agar usaha dapat bertahan dan berkembang.
Ia pun menyampaikan pesan sederhana bagi perempuan yang ingin memulai usaha tetapi masih merasa belum siap.
“Mulai aja dulu. Jangan tunggu besar baru mau mulai atau tunggu siap baru mulai.”
Baginya, menunggu kondisi benar-benar sempurna justru dapat membuat seseorang terus menunda langkah pertama.
Rahmah Traditional Cake, Menjaga Warisan Kuliner agar Tetap Relevan
Sementara itu, Rahmah memilih mengembangkan usaha dengan mempertahankan kekayaan kuliner tradisional.
Ia mengawali perjalanannya dengan memanfaatkan resep-resep warisan orang tua yang sebelumnya pernah menjalankan usaha makanan.
Ketika usaha keluarga sempat berhenti, dukungan teman-teman sesama pelaku usaha mendorong Rahmah untuk kembali belajar membuat kue dan mengembangkan resep yang telah dimiliki keluarganya.
Pada awalnya, ia hanya menjual panada isi sayur dengan bantuan anggota keluarga.
Ruang tamu rumah bahkan pernah menjadi tempat memajang dagangannya sebelum usaha berkembang dan mulai memiliki etalase sendiri.
Seiring bertambahnya pelanggan, Rahmah melengkapi produknya dengan berbagai jenis kue tradisional.
Pada 2021, ia memindahkan usahanya ke lokasi di Jalan Anggrek, Pinrang.
Namun, Rahmah menyadari bahwa mempertahankan kuliner tradisional membutuhkan lebih dari sekadar menjaga resep dan cita rasa.
Ia mulai memperbaiki sistem pengelolaan usaha, mulai dari bahan baku, produksi, pengelolaan karyawan, hingga pengemasan produk.
Inovasi kemasan juga dilakukan agar kue tradisional memiliki tampilan yang lebih menarik dan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Saya memilih untuk mengangkat tradisional biar tradisionalnya bisa naik level.”
Melalui Rahmah Traditional Cake, ia ingin menunjukkan bahwa makanan tradisional tetap memiliki peluang untuk berkembang di tengah perubahan selera dan tren kuliner modern.
Tantangan UMKM: Kualitas Produk, Tenaga Kerja, dan Harga Bahan Baku
Tidak hanya berbagi kisah keberhasilan, ketiga narasumber juga membahas berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha kuliner.
Kenaikan harga bahan baku, persaingan produk, perubahan selera konsumen, serta konsistensi kualitas menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan bisnis.
Kak Emy mengungkapkan bahwa kenaikan biaya produksi tidak selalu harus langsung diikuti kenaikan harga jual.
Menurutnya, pelaku usaha perlu memperhitungkan harga pokok produksi dan margin keuntungan sebelum mengambil keputusan agar kepentingan bisnis dan daya beli konsumen tetap menjadi pertimbangan.
Di sisi lain, persoalan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan yang cukup besar.
Kak Emy mengaku membutuhkan waktu dan tenaga untuk melatih pekerja hingga mampu menghasilkan produk sesuai standar.
Ketika pekerja yang sudah terampil memutuskan berhenti, proses pelatihan harus kembali dilakukan kepada pekerja baru.
Hal serupa menjadi perhatian Tifah dan Rahmah yang menekankan pentingnya standar operasional prosedur (SOP), pengawasan produksi, dan pembinaan karyawan.
Bagi mereka, menjaga kualitas bukan hanya persoalan resep, tetapi juga bagaimana membangun sistem kerja yang mampu menghasilkan produk secara konsisten.
Media Sosial dan Kolaborasi Membuka Peluang Baru
Perbincangan juga menyoroti pentingnya pemasaran digital dalam perkembangan usaha.
Kak Emy mengungkapkan bahwa Lylo memanfaatkan berbagai platform media sosial, seperti Instagram, Facebook, dan TikTok, untuk mempromosikan produk.
Ia bahkan menganggap layanan WhatsApp yang dikelola admin sebagai toko kedua karena jumlah pesanan melalui kanal tersebut terkadang lebih banyak daripada pembelian langsung di toko.
Sementara itu, Tifah dan Rahmah juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan pelanggan, serta memperluas jangkauan pasar.
Ketiga narasumber turut menekankan pentingnya menerima kritik dan keluhan pelanggan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas produk maupun pelayanan.
Selain pemasaran, kolaborasi antarpelaku UMKM juga menjadi bagian menarik dalam diskusi.
Lylo, misalnya, membuka kesempatan bagi sejumlah produk UMKM lokal untuk dipasarkan melalui tokonya.
Para narasumber juga berbagi pengalaman mengikuti kegiatan bersama, termasuk kolaborasi produk dalam kegiatan sosial.
Tifah menceritakan pengalamannya bekerja sama dengan Rahmah menggabungkan produk dalam paket makanan untuk kegiatan penggalangan donasi bagi Nusa Tenggara Timur.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana jejaring antarpelaku usaha dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Pesan Tiga Womanpreneur: Setiap Perempuan Punya Waktu untuk Bersinar
Menjelang akhir podcast, Miah Jufri meminta ketiga narasumber menyampaikan pesan bagi perempuan yang ingin membangun usaha tetapi masih diliputi keraguan.
Tifah mengajak para calon pelaku usaha untuk tidak terus menunggu kondisi yang sempurna sebelum mengambil langkah pertama.
Sementara itu, Rahmah menyampaikan pesan agar perempuan tidak meremehkan langkah kecil yang sedang mereka perjuangkan.
“Jangan pernah merasa langkahmu terlalu kecil. Jangan takut untuk bermimpi. Karena setiap wanita itu punya waktu sendiri untuk bersinar.”
Kak Emy menambahkan bahwa keberhasilan tidak harus menjadi syarat untuk berani memulai.
“Tidak perlu menunggu diri ini hebat untuk memulai. Setidaknya kalau punya kemauan, mulailah dari sekarang.”
Ia juga mengajak perempuan untuk berani bertumbuh, mengembangkan kemampuan, serta membuka peluang bagi perempuan lainnya.
Melalui program Pinrang Creative Network, Radio Suara Bumi Lasinrang menghadirkan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat.
Kisah Kak Emy, Tifah, dan Rahmah memperlihatkan bahwa di balik produk kuliner yang dinikmati konsumen, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan keberanian, dukungan keluarga, proses belajar, serta kemampuan menghadapi perubahan.
Dari dapur rumah hingga membuka lapangan pekerjaan, perjalanan ketiganya menjadi contoh bagaimana usaha yang dimulai dari langkah sederhana dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Sebab di balik manisnya sebuah kue, ada perjuangan, harapan, dan kesempatan bagi banyak orang untuk ikut bertumbuh.
Radio Suara Bumi Lasinrang — Informasi, Inspirasi, Komunitas, Kita.
Suara Pinrang, Suara Kita!

