PINRANG — Sebuah event lari tidak harus selesai ketika peserta melewati garis finish. Ia dapat menjadi ruang bertemu, tempat komunitas tumbuh, produk lokal dikenal, hingga membuka hubungan baru antara pelaku usaha, kreator dan masyarakat.
Gagasan itu mengemuka dalam Podcast Pinrang Creative Network LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang (Radio SBL) 92.4 FM, Rabu, 7 Oktober 2026. Dipandu Amar, episode tersebut menghadirkan Yuli selaku founder Bungi Creative Run 2026, Nur Aini sebagai pacer, serta content creator dan pelari Awal Sappoe.
Podcast mengangkat tema yang lebih luas daripada sekadar teknis perlombaan. Bungi Creative Run 2026 ditempatkan sebagai pintu masuk untuk melihat bagaimana olahraga dapat mempertemukan komunitas, UMKM, kreator konten dan masyarakat dalam satu aktivitas.
Kolaborasi Jadi Tujuan Utama
Ketika ditanya mengenai aktivitas apa yang sebenarnya ingin dibangun melalui Bungi Creative Run 2026, Yuli menempatkan kolaborasi sebagai salah satu tujuan utama.
Momentum satu dekade perjalanan Bungi Kreatif memang menjadi latar kegiatan, tetapi perayaan tersebut sengaja dibuka lebih luas dengan melibatkan komunitas dan pelaku UMKM.
Pilihan terhadap olahraga lari juga tidak datang tanpa alasan. Selain bersinggungan dengan dunia sportswear, penyelenggara melihat aktivitas lari berkembang menjadi gaya hidup yang dapat diikuti berbagai kalangan.
Dalam podcast disebutkan peserta datang dari latar yang beragam, mulai masyarakat umum, pekerja, pelajar hingga anggota komunitas.
Dengan cara itu, lari menjadi sebuah titik temu.
Bukan hanya antara pelari dengan pelari, tetapi juga antara komunitas, pelaku usaha, kreator dan masyarakat yang mungkin sebelumnya tidak berada dalam ruang yang sama.
Local Market Bukan Sekadar Tenant
Salah satu bagian penting Bungi Creative Run 2026 adalah keterlibatan pelaku UMKM, terutama sektor makanan dan minuman.
Dalam podcast, Yuli menjelaskan model kolaborasi yang berbeda dari konsep tenant konvensional. Pelaku UMKM yang terlibat tidak diminta memberikan kontribusi dalam bentuk uang untuk masuk dalam skema kolaborasi tersebut.
Sebaliknya, produk mereka menjadi bagian dari pengalaman peserta, sementara penyelenggara membantu memberikan ruang exposure sejak rangkaian menuju acara hingga hari pelaksanaan.
Pendekatan ini membuat produk lokal tidak berhenti pada logo yang muncul di poster atau unggahan media sosial.
Produk makanan dan minuman dapat langsung dikenali dan dicoba peserta.
Sejumlah produk bahkan telah lebih dahulu diberikan kepada pacer dan pihak yang terlibat untuk diperkenalkan melalui media sosial. Pada rangkaian kegiatan dan setelah finish, produk UMKM juga dirancang menjadi bagian dari pengalaman runner.
Dalam podcast, Yuli menyebut jumlah brand F&B yang bergabung berada pada kisaran 15 hingga 16 brand. Angka final tetap perlu mengikuti data terakhir penyelenggara.
Dari Promosi Visual Menjadi Pengalaman
Konsep tersebut menjadi menarik karena memperkenalkan produk tidak semata melalui visual.
Peserta dapat mencoba produk secara langsung dan membentuk pengalaman sendiri terhadap produk lokal yang mereka temui.
Yuli menjelaskan bahwa promosi melalui media sosial memiliki keterbatasan. Masyarakat dapat melihat sebuah produk, tetapi belum tentu pernah merasakan atau mencobanya.
Pada area refreshment, pengalaman itu dibuat lebih nyata.
Dengan begitu, kolaborasi UMKM tidak hanya bekerja pada level “brand awareness”, tetapi juga menghadirkan interaksi langsung antara produk dan calon konsumen.
Tidak Menjanjikan Penjualan
Menariknya, penyelenggara juga tidak menjanjikan bahwa keterlibatan UMKM otomatis menghasilkan transaksi.
Dalam podcast, Yuli menyampaikan bahwa tidak ada jaminan setiap finisher kemudian langsung membeli produk yang mereka coba.
Sasaran yang lebih realistis adalah membuka exposure, mengenalkan produk serta mempertemukan pelaku usaha dengan audiens yang lebih luas.
Pendekatan tersebut penting karena dampak ekonomi suatu event tidak selalu dapat dihitung hanya dari transaksi pada hari pelaksanaan.
Ada nilai lain berupa pengenalan produk, jaringan baru, konten digital, relasi antarpelaku serta kemungkinan kolaborasi yang tumbuh setelah kegiatan selesai.
Kolaborasi Dimulai Sebelum Race
Bungi Creative Run juga telah membangun rangkaian kegiatan sebelum hari H.
Dalam podcast disebutkan adanya roadshow di Pinrang dan Parepare yang mempertemukan komunitas dan berbagai pihak di lokasi kegiatan.
Permintaan kegiatan serupa juga muncul dari beberapa wilayah lain, meskipun keterbatasan waktu persiapan membuat tidak seluruh daerah dapat dijangkau.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas sebuah event tidak selalu baru dimulai ketika peluit start dibunyikan.
Kolaborasi dapat tumbuh sejak proses persiapan.
Komunitas bertemu, pelaku usaha diperkenalkan, konten tercipta, dan jaringan perlahan terbentuk.
Kreator Tidak Hanya Diminta Mengunggah Poster
Kehadiran content creator juga menjadi bagian penting dalam percakapan.
Dalam ekosistem semacam ini, kreator tidak hanya berfungsi sebagai orang yang mengunggah poster atau mengajak audiens datang.
Mereka dapat membantu mengubah aktivitas menjadi cerita.
Mengenalkan UMKM, merekam pengalaman runner, mendokumentasikan komunitas dan membawa cerita lokal ke ruang digital.
Awal Sappoe menjadi contoh bagaimana kegiatan olahraga dan produksi konten dapat berjalan bersamaan.
Sementara Nur Aini menghadirkan dimensi lain melalui perannya sebagai pacer, yakni orang yang menjaga ritme sekaligus ikut menyemangati peserta.
Dari sini terbentuk rantai sederhana:
aktivitas menciptakan pengalaman, pengalaman menciptakan cerita, dan cerita memperluas jangkauan aktivitas tersebut.
Apa yang Tersisa Setelah Garis Finish?
Bungi Creative Run 2026 dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026. Informasi tersebut kembali ditegaskan Yuli menjelang penutupan podcast.
Namun pertanyaan paling penting justru muncul ketika Amar menanyakan apa yang harus tetap hidup setelah event berakhir.
Jawaban Yuli sederhana: komunitas harus tetap berjalan.
Ia bahkan membuka kemungkinan agar Bungi Creative Run berkembang menjadi wadah bagi komunitas lari untuk melakukan kegiatan bersama di Pinrang setelah hari pelaksanaan.
Di titik inilah keberhasilan sebuah event dapat dinilai dengan cara yang berbeda.
Tidak hanya dari jumlah peserta di garis start.
Tidak hanya dari medali yang dibagikan.
Dan tidak hanya dari ramainya unggahan media sosial.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah garis finish dibongkar, siapa yang masih saling terhubung?
Jika komunitas tetap bergerak, UMKM menemukan jaringan baru, kreator memiliki cerita baru dan lebih banyak masyarakat terdorong untuk beraktivitas, maka sebuah event telah meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada durasi perlombaannya.
Itulah makna “bukan sekadar lari” yang muncul dalam percakapan Pinrang Creative Network: sebuah aktivitas dapat menjadi titik temu agar berbagai unsur lokal tumbuh dan bergerak bersama.
Radio SBL 92.4 FM — Suara Pinrang, Suara Kita!


Berita
Berita
Berita 