PINRANG, SBL — Ada dua perjalanan berbeda yang bertemu di Studio Radio SBL sore itu.
Di satu sisi, ada Nur Aini—perempuan asal Kabupaten Pinrang yang beberapa tahun lalu mendapat perhatian nasional setelah video dirinya bekerja mengangkat sak semen beredar luas di media sosial.
Di sisi lain, ada Awal Sappoe—content creator yang menjalani kebiasaan berlari 10 kilometer setiap hari dan mendokumentasikan perjalanan itu melalui media sosial.
Keduanya hadir dalam Podcast Pinrang Creative Network, LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang atau Radio SBL 92.4 FM, Rabu, 7 Oktober 2026, bersama Yuli, founder Bungi Creative Run 2026.
Mereka datang dari jalan yang berbeda.
Namun sore itu, percakapan memperlihatkan satu titik temu:
Bergerak.
Nur Aini dan Cerita yang Pernah Menjadi Perhatian Nasional
Publik mulai mengenal Nur Aini secara luas pada akhir 2021.
Ketika itu, video seorang perempuan muda mengangkat sak semen di Kabupaten Pinrang menyebar melalui media sosial dan kemudian mendapat perhatian berbagai media nasional.
Pemberitaan detikNews ketika itu mengidentifikasi perempuan tersebut sebagai Nur Aini, mahasiswi bidang olahraga di Universitas Negeri Makassar yang bekerja sebagai buruh angkut semen untuk membantu kedua orang tuanya.
Kisah serupa kemudian diberitakan berbagai media nasional lainnya.
Nur Aini menjalani pekerjaan fisik tersebut di tengah aktivitas pendidikan yang sedang ditempuhnya. Ceritanya memperlihatkan perjuangan seorang perempuan muda membagi waktu antara pendidikan, pekerjaan, dan membantu keluarga.
Perhatian publik terhadap Aini tidak berhenti pada pemberitaan media.
Pada 20 Juni 2023, ia hadir dalam podcast Deddy Corbuzier melalui kanal YouTube resminya dalam episode berjudul “ANGKAT SEMEN SAMPAI SAKIT DIBAYAR 600 RUPIAH‼️ Buat Kuliah..”
Episode tersebut kemudian ditonton jutaan kali dan membawa cerita Nur Aini kepada audiens yang jauh lebih luas.
Dari Pinrang, kisahnya sampai ke panggung nasional.
Namun perhatian publik memiliki umur.
Trending topic berubah. Kamera berpindah. Cerita baru bermunculan.
Pertanyaan yang lebih menarik kemudian muncul:
Apa yang terjadi pada Nur Aini setelah cerita viral itu berlalu?
“Saya Masih Kerja Pikul Semen”
Empat hingga lima tahun setelah cerita tersebut menjadi perhatian publik, Nur Aini memberikan pembaruan langsung mengenai kehidupannya saat berbincang di Radio SBL.
Ketika Amar bertanya bagaimana kehidupannya berkembang setelah dikenal masyarakat, Aini menjawab bahwa ia masih menjalani pekerjaan yang pernah membuat namanya dikenal.
“Aku sampai sekarang ini masih kerja pikul semen juga. Setelah itu baru sorenya lari lagi.”
Pernyataan sederhana itu menghadirkan perspektif lain dari sebuah fenomena viral.
Sorotan nasional tidak serta-merta menghapus seluruh realitas kehidupan seseorang.
Kamera bisa berhenti merekam.
Popularitas bisa berganti.
Namun kehidupan tetap berjalan.
Aini tetap bekerja.
Pada saat yang sama, ada bagian lain dalam kehidupannya yang terus tumbuh:
olahraga.
Tidak Ingin Hanya Dikenal karena Masa Lalunya
Ketika ditanya ingin dikenal sebagai siapa hari ini, Aini tidak membicarakan popularitas ataupun kisah viralnya.
Ia justru menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang ceria dan berharap bisa menjadi motivasi bagi banyak orang.
“Yang ceria, yang suka menjadi motivasi untuk banyak orang.”
Lari, menurut Aini, kini menjadi salah satu hobinya.
Pernyataan itu penting karena identitas seseorang seharusnya tidak berhenti pada satu peristiwa yang pernah membuatnya dikenal.
Nur Aini memang pernah mendapat perhatian karena perjuangannya sebagai buruh panggul semen.
Namun cerita tersebut hanyalah salah satu bagian dari perjalanan hidupnya.
Hari ini, ia juga hadir sebagai runner, bagian dari komunitas olahraga, sekaligus pacer.
Dari Latihan untuk Seleksi hingga Menjadi Pacer
Hubungan Nur Aini dengan aktivitas lari ternyata telah dimulai jauh sebelum dirinya menjalani peran sebagai pacer.
Dalam podcast, Aini menceritakan bahwa kebiasaan berlari awalnya tumbuh ketika dirinya memiliki keinginan mengikuti seleksi tentara atau polisi.
Ia kerap berlatih bersama adiknya.
Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk sebuah tujuan tertentu kemudian berubah menjadi kebiasaan dan bagian dari kesehariannya.
Lari tidak lagi sekadar latihan.
Ia menjadi ruang untuk menjaga kebugaran, bertemu orang lain, membangun komunitas, hingga akhirnya membawa Aini kepada peran baru:
menjadi pacer.
Pacer Bukan Sekadar Menjaga Angka
Bagi orang yang belum akrab dengan dunia running, pacer mungkin terlihat hanya sebagai pelari yang membawa angka tertentu.
Namun tugas seorang pacer tidak sesederhana menjaga kecepatan.
Aini menjelaskan bahwa seorang pacer harus mampu menjaga ritme.
Tidak terlalu cepat.
Tidak pula terlalu lambat.
“Jadi enggak boleh kencang, enggak boleh juga lambat. Jadi itu ada waktunya.”
Pacer juga berperan menjaga semangat peserta.
Ketika ada runner yang mulai tertinggal atau kesulitan mempertahankan langkah, pacer menjadi salah satu orang yang terus memberi dorongan.
Di titik inilah perjalanan Nur Aini membentuk lingkaran cerita yang menarik.
Dahulu, publik mengenalnya sebagai seseorang yang sedang berjuang mencapai tujuan hidupnya sendiri.
Hari ini, di lintasan lari, ia justru berada bersama orang lain yang sedang berjuang mencapai garis finish mereka.
Lari sebagai Ruang Pertemanan dan Kepercayaan Diri
Percakapan dalam Pinrang Creative Network kemudian berkembang ke sisi sosial olahraga.
Nur Aini dan Awal Sappoe melihat dunia lari tidak hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga ruang pertemuan.
Seseorang dapat masuk ke dalam komunitas tanpa sebelumnya mengenal siapa pun.
Dari aktivitas bersama, pertemanan kemudian terbentuk.
Awal juga menyoroti bagaimana olahraga dapat membantu membangun kepercayaan diri.
Seseorang yang sebelumnya merasa tidak mampu menyelesaikan jarak tertentu dapat membuat target, berlatih, lalu perlahan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa batas tersebut bisa dilewati.
Ada orang yang awalnya tidak yakin mampu menempuh lima kilometer.
Kemudian ia mencoba.
Mungkin tidak seluruhnya berlari.
Mungkin sesekali berjalan.
Namun ia tetap bergerak hingga mencapai finish.
Pengalaman sederhana seperti itu membuat olahraga memiliki makna lebih luas daripada sekadar urusan fisik.
Ia juga dapat menjadi pengalaman psikologis dan sosial.
Awal Sappoe: 10 Kilometer Setiap Hari
Jika cerita Nur Aini memperlihatkan perjalanan hidup yang bertemu dengan olahraga, kisah Awal Sappoe berangkat dari satu kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan:
Konsistensi.
Saat hadir di Podcast Pinrang Creative Network pada 7 Oktober 2026, Awal mengatakan hari itu merupakan hari ke-278 dirinya menjalani aktivitas lari 10 kilometer setiap hari.
“Hari ini 278 hari.”
Angka itu terdengar sederhana.
Namun bila diterjemahkan sebagai rutinitas sehari-hari, 278 hari berarti ratusan keputusan untuk tetap bergerak.
Ada hari ketika tubuh terasa ringan.
Ada hari ketika aktivitas lain menumpuk.
Ada hari ketika semangat tinggi.
Dan kemungkinan ada pula hari ketika keinginan untuk berlari tidak sebesar biasanya.
Tetapi satu aktivitas tetap dilakukan:
10 kilometer.
Keterangan mengenai hari ke-278 dan aktivitas 10 kilometer setiap hari berasal langsung dari Awal dalam Podcast Pinrang Creative Network. Karena jejak publik terbuka mengenai keseluruhan program tersebut masih terbatas, Radio SBL menempatkannya sebagai keterangan langsung narasumber.
Lari karena Konten atau Konten karena Lari?
Amar kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat relevan dengan identitas Awal sebagai seorang content creator:
Apakah Awal berlari karena ingin membuat konten, atau membuat konten karena memang ingin berlari?
Awal tidak menolak peran konten dalam perjalanan tersebut.
Ia mengaku aktivitas digital memang menjadi bagian dari apa yang dilakukannya.
Namun ia mempunyai cara yang menarik untuk mendefinisikan hubungan antara lari dan konten.
“Saya anggap konten itu sebagai saksi. Saksi bahwa saya berlari tiap hari.”
Bagi Awal, media sosial menjadi catatan.
Sebuah bukti perjalanan yang terus diperbarui.
Hari pertama terdokumentasi.
Hari berikutnya kembali terdokumentasi.
Kemudian satu minggu.
Satu bulan.
Berbulan-bulan.
Sampai akhirnya ratusan hari.
Dalam konteks tersebut, media sosial bukan hanya panggung.
Ia juga menjadi bentuk akuntabilitas pribadi.
Ketika perjalanan sudah dibuka kepada publik, muncul dorongan untuk kembali membuktikan konsistensi pada hari berikutnya.
Dari Satu Minggu Menjadi Ratusan Hari
Konsistensi Awal tidak dimulai dengan target ratusan hari.
Dalam podcast, ia menceritakan bahwa pada awal perjalanan dirinya mencoba menjalani program tersebut selama satu minggu.
Setelah mampu melewati satu minggu, target berikutnya menjadi satu bulan.
Kemudian enam bulan.
Lalu terus berjalan.
“Saya mau coba satu minggu. Terus satu minggu saya coba bikin konten lagi, saya mau coba satu bulan. Bisa lewat satu bulan, enam bulan. Lewat enam bulan akhirnya sudah sembilan bulan.”
Cerita tersebut menunjukkan bahwa target besar tidak selalu harus dimulai dengan angka besar.
Ratusan hari pada akhirnya tersusun dari satu hari yang diulangi berkali-kali.
Publik mungkin hanya melihat hasil akhirnya:
278 hari.
Namun angka tersebut terdiri atas keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Saitama dan Inspirasi 10 Kilometer
Ada sisi pop culture yang menarik di balik pilihan jarak 10 kilometer.
Awal mengaku menyukai anime dan menyebut karakter Saitama dari One Punch Man sebagai salah satu inspirasinya.
Dalam cerita tersebut, Saitama dikenal dengan rutinitas latihan berupa lari 10 kilometer, 100 push-up, 100 sit-up, dan 100 squat.
Awal mengatakan dirinya juga menjalani sejumlah unsur dari pola latihan tersebut.
“Saya juga melakukan 100 kali push-up, 100 kali sit-up, dan 100 kali squat.”
Namun pola yang dijalani Awal merupakan pengalaman personal.
Rutinitas tersebut tidak semestinya dipahami sebagai rekomendasi olahraga yang otomatis cocok bagi semua orang.
Kapasitas tubuh, usia, kondisi fisik, riwayat kesehatan, dan kebutuhan latihan setiap individu berbeda.
Yang lebih relevan dari cerita tersebut adalah bagaimana inspirasi sederhana dari budaya populer dapat berubah menjadi komitmen nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Yang Dikejar Bukan Hanya Jarak
Dalam podcast, Awal beberapa kali berbicara mengenai perubahan diri.
Ada sesuatu yang ingin dicapainya melalui rutinitas tersebut.
Ia menyebutnya sebagai transformasi.
“Ada transformasi, ada perubahan diri yang ingin saya capai.”
Karena perjalanan itu kemudian dibagikan kepada publik melalui konten, transformasi personal tersebut juga menjadi cerita digital.
Di sinilah olahraga dan content creation bertemu.
Aktivitas melahirkan cerita.
Cerita menjadi konten.
Konten bertemu audiens.
Namun muncul pertanyaan yang lebih penting:
Apa yang terjadi setelah orang menonton?
Views atau Membuat Orang Bergerak?
Amar kemudian memberikan Awal sebuah pilihan.
Mana yang lebih berharga:
satu video dengan jumlah viewers besar, atau
beberapa orang yang benar-benar mulai bergerak karena melihat kontennya?
Awal memilih pilihan kedua.
“Saya lebih pilih yang kedua.”
Jawaban itu menjadi salah satu titik penting dalam percakapan.
Dunia digital terbiasa mengukur keberhasilan melalui angka.
Views.
Likes.
Followers.
Reach.
Namun dampak tidak selalu berhenti pada layar.
Ketika seseorang menonton sebuah konten, kemudian memakai sepatu dan keluar rumah untuk mulai bergerak, sesuatu telah berpindah dari dunia digital ke kehidupan nyata.
Content creator pada titik itu tidak hanya menghasilkan perhatian.
Ia ikut menghasilkan dorongan untuk bertindak.
Dua Jalan yang Akhirnya Bertemu
Nur Aini dan Awal Sappoe tidak datang dari perjalanan yang sama.
Aini pernah menjadi cerita yang dilihat jutaan orang karena kerasnya pekerjaan yang dijalaninya sambil memperjuangkan kehidupan dan pendidikan.
Awal secara sadar membangun cerita melalui kamera dan media sosial dari aktivitas yang dilakukan setiap hari.
Aini pernah berada di pusat perhatian nasional.
Awal membangun perhatian melalui konsistensi digital.
Namun ketika keduanya duduk bersama di Studio Radio SBL, cerita mereka bertemu pada satu kata:
Bergerak.
Aini terus bergerak melewati berbagai fase hidup—dari pekerjaan mengangkat semen, pendidikan, perhatian publik, hingga berada di lintasan sebagai pacer.
Awal bergerak kilometer demi kilometer, hari demi hari, sambil menjadikan media sosial sebagai catatan perjalanan.
Pada akhirnya, keduanya juga bicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Aini bicara tentang menyemangati orang agar tetap bergerak menuju finish.
Awal memilih dampak ketika orang lain ikut bergerak dibanding sekadar mengejar angka viewers.
Mungkin di situlah makna paling menarik dari olahraga.
Bukan sekadar siapa yang paling cepat.
Bukan siapa yang mempunyai perlengkapan paling lengkap.
Bahkan bukan hanya siapa yang berhasil menempuh jarak paling jauh.
Tetapi:
Siapa yang terus bergerak—dan siapa yang kemudian ikut bergerak karena melihatnya.
Radio SBL 92.4 FM — Suara Pinrang, Suara Kita!


Berita
Berita
Berita 