PINRANG โ€” Keterbatasan peralatan dan biaya produksi tidak menghalangi sejumlah kreator lokal untuk melahirkan karya film berbahasa Bugis. Melalui film Maddennuang Baka Sebbo, mereka mencoba menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus mempertahankan bahasa dan nilai budaya Bugis melalui medium perfilman.

Cerita di balik produksi film tersebut terungkap dalam program Pinrang Creative Network Radio Suara Bumi Lasinrang, 5 September 2026. Podcast yang dipandu Mia Jufri dan Amar itu menghadirkan dua orang yang terlibat langsung dalam produksi, yakni Egi Biardi sebagai sutradara sekaligus pemeran utama, serta Daeng Ucu, pemeran sentral karakter Manggong.

Berawal dari Lagu Bugis

Egi mengungkapkan, gagasan Maddennuang Baka Sebbo bermula dari sebuah lagu Bugis yang kemudian dikembangkan menjadi cerita film.

โ€œAwalnya ini film dari lagu,โ€ ungkap Egi dalam podcast.

Cerita tersebut kemudian dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari kisah nyata dan karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alurnya membawa sejumlah persoalan seperti persahabatan, harapan, cinta, kekecewaan, hingga perjalanan seseorang dalam menemukan kembali arah kehidupannya.

Judul Maddennuang Baka Sebbo sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan sebuah perumpamaan Bugis, yakni berharap pada wadah yang memiliki kebocoran.

Wadah tersebut terus diisi, tetapi tidak kunjung penuh karena terdapat celah. Perumpamaan itu kemudian menjadi gambaran mengenai seseorang yang menaruh harapan besar terhadap sesuatu, namun kenyataan yang dihadapi tidak selalu sesuai dengan yang diinginkan.

Makna tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari filosofi cerita film.

Bahasa Bugis Menjadi Identitas

Salah satu kekuatan utama Maddennuang Baka Sebbo terletak pada penggunaan bahasa Bugis dalam dialog para pemain.

Bagi para kreator, bahasa daerah tidak dipandang sebagai keterbatasan, tetapi justru menjadi identitas yang ingin dipertahankan dan diperkenalkan melalui karya audiovisual.

Dalam perbincangan bersama Radio SBL, semangat tersebut tergambar melalui gagasan untuk โ€œmenduniakan Bugisโ€.

Film dipandang sebagai salah satu medium untuk membawa bahasa dan cerita Bugis kepada khalayak yang lebih luas. Tidak hanya melalui dialog, tetapi juga melalui karakter, interaksi, humor, serta nilai kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Meski demikian, tim produksi menyadari adanya tantangan untuk menjangkau penonton di luar penutur bahasa Bugis. Salah satu upaya yang dipandang penting adalah penyediaan subtitle.

Keterbatasan perangkat editing menjadi salah satu kendala yang masih dihadapi dalam proses tersebut.

Produksi Hampir Dua Bulan

Di balik film berdurasi sekitar 44 menit itu, terdapat proses produksi yang berlangsung hampir dua bulan.

Waktu tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk syuting setiap hari. Kesibukan masing-masing pemain dan kru membuat proses pengambilan gambar harus menyesuaikan waktu luang, termasuk memanfaatkan akhir pekan.

Sebagian proses syuting dilakukan di kawasan Pangkajene, dengan beberapa lokasi lainnya disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Kondisi tersebut membuat tim harus mampu mengatur jadwal sekaligus mencari solusi ketika keterbatasan peralatan tidak memungkinkan mereka membuat adegan sesuai rencana awal.

Kreativitas akhirnya menjadi bagian penting dalam proses produksi.

Bagi tim, keterbatasan alat bukan alasan untuk menghentikan proses berkarya. Justru dari kondisi tersebut muncul berbagai cara sederhana untuk tetap mewujudkan adegan yang dibutuhkan.

Dikerjakan Secara Kolektif

Produksi Maddennuang Baka Sebbo juga menunjukkan kuatnya semangat kolaborasi antarkreator lokal.

Kebutuhan produksi dipenuhi secara bersama-sama oleh orang-orang yang terlibat. Masing-masing memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan fasilitas yang dimiliki.

โ€œModal-modal kita ji semua,โ€ kata Egi.

Ada yang berperan sebagai pemain, membantu proses pengambilan gambar, menyediakan peralatan, hingga menangani kebutuhan teknis produksi.

Egi bahkan menjalankan sejumlah peran sekaligus. Selain sebagai sutradara dan pemeran, ia juga mengerjakan proses editing film.

โ€œKarena saya juga yang ngedit,โ€ ujarnya.

Pola produksi tersebut memperlihatkan bahwa karya audiovisual dapat dibangun dari kolaborasi dan jejaring kreator, tanpa harus menunggu tersedianya fasilitas produksi berskala besar.

Tidak Perlu Menunggu Peralatan Lengkap

Perkembangan teknologi digital juga dinilai membuka peluang yang semakin luas bagi anak muda untuk memulai aktivitas kreatif.

Egi menilai, perangkat yang tersedia saat ini sudah cukup untuk menjadi titik awal seseorang menghasilkan karya.

โ€œSekarang itu kan dunia digital. Bahkan cukup HP saja sudah bisa berkarya,โ€ ujarnya.

Menurutnya, kreator tidak perlu terlalu takut terhadap komentar atau penilaian orang lain selama karya yang dibuat membawa hal positif.

Ia bahkan menyampaikan pesan sederhana kepada mereka yang masih ragu memulai.

โ€œUpload saja, upload saja, upload saja.โ€

Menurut Egi, tidak ada yang dapat memastikan karya mana yang nantinya akan mendapatkan perhatian masyarakat.

Sementara Daeng Ucu memberikan jawaban singkat ketika ditanya mengenai hal pertama yang perlu dipersiapkan untuk mulai berkarya.

โ€œNiat dulu.โ€

Menurutnya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk menunda. Pengalamannya sendiri menunjukkan bahwa proses berkarya dapat dimulai dari lingkungan terdekat, kemudian berkembang melalui pertemanan dan kolaborasi.

Cerita Lokal dari Pinrang untuk Penonton yang Lebih Luas

Kehadiran Maddennuang Baka Sebbo menjadi salah satu gambaran geliat kreator lokal dalam memanfaatkan medium digital untuk mengangkat identitas daerah.

Film tersebut lahir bukan dari studio produksi besar, melainkan dari kolaborasi orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap seni, cerita lokal, dan dunia kreatif.

Bahasa Bugis menjadi identitas. Cerita yang dekat dengan masyarakat menjadi sumber inspirasi. Sementara keterbatasan fasilitas dijawab dengan kolaborasi dan kreativitas.

Bagi perkembangan ekosistem kreatif daerah, karya seperti ini menunjukkan bahwa potensi lokal dapat tumbuh dari lingkungan masyarakat sendiri.

Tidak harus menunggu peralatan lengkap, anggaran besar, ataupun fasilitas produksi profesional untuk memulai sebuah karya.

Di era digital, cerita dari daerah memiliki kesempatan untuk menemukan penontonnya sendiriโ€”tidak hanya di Pinrang dan Sulawesi Selatan, tetapi juga di ruang digital yang lebih luas.

Radio Suara Bumi Lasinrang โ€” Suara Pinrang, Suara Kita!

Pinrang Berkabar | Tim Redaksi Radio SBL

Sumber: Perbincangan Pinrang Creative Network bersama Egi Biardi dan Daeng Ucu dalam program Radio Suara Bumi Lasinrang, 5 September 2026.