Lipa’ Sabbe adalah mahkota dari seni kriya tenun suku Bugis. Terbuat dari pintalan benang ulat sutra alam dengan corak geometris yang kaya makna kosmis, sarung sutra ini menjadi perlambang kemakmuran, martabat keluarga, dan pengikat silaturahmi sakral dalam adat istiadat Sulawesi Selatan.
📜 Kartu Khazanah & Aksara Lontara
Warisan Luhur Bugis
Tenun Sutra Geometris yang Menjaga Kesucian Jiwa dan Kehormatan Diri
Lontara Allingkau Wajo & Tradisi Tenun Walasuji Sengkang
Jejak Sejarah dan Nilai Kosmologi Budaya
Masyarakat Bugis telah membudidayakan pohon murbei dan ulat sutra sejak berabad-abad silam, khususnya di lembah Danau Tempe, Wajo, dan menyebar ke seluruh Ajatappareng. Di masa lampau, kemampuan seorang perempuan muda Bugis menenun sarung sutra menggunakan alat tenun gedogan kayu (Sa’je) merupakan tolak ukur kedewasaan, ketabahan, dan kesucian budi pekerti. Motif sarung sutra Bugis tidak sembarangan diciptakan; setiap garis dan perpotongan kotak memiliki filosofi tersendiri. Corak “Balo Tettong” (garis-garis lurus tegak) menyimbolkan keteguhan iman dan kejujuran, sedangkan motif “Balo Renni” (garis kotak-kotak lembut kecil) mencerminkan kehati-hatian dalam bertindak.
“Mellong makkalu situru’, mabbulo sibatang narekko engka asusang (Bertaut rapat seiring sejalan, bagai serumpun bambu ketika menghadapi kesulitan hidup).”
Pilar Penting dan Fakta Terverifikasi
Berdasarkan catatan naskah Lontara dan kajian antropologi budaya Bugis, berikut adalah poin-poin penting yang patut diketahui:
📻 Merawat Khazanah Bumi Lasinrang di Udara
Saksikan dan dengarkan ulasan tematik seputar sejarah, sastra Lontara, dan falsafah Bugis melalui siaran budaya interaktif LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang 92.40 MHz FM Pinrang.
Artikel ini diterbitkan secara otomatis dan terverifikasi oleh Tim Khazanah Budaya Bugis LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang 92.4 FM Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Pinrang. Seluruh referensi bersumber dari naskah klasik Lontara dan arsip sejarah terakreditasi.


