Sebagai salah satu kabupaten lumbung pangan beras terbesar di Indonesia, Kabupaten Pinrang (Bumi Lasinrang) memiliki ikatan spiritual yang mendalam dengan tanaman padi. Tradisi Mappalili dan Mappadendang adalah puncak perayaan agraris Bugis yang menyatukan rasa syukur kepada Ilahi dengan gotong royong warga kampung.
📜 Kartu Khazanah & Aksara Lontara
Warisan Luhur Bugis
Jejak Sejarah dan Nilai Kosmologi Budaya
Tradisi “Mappalili” (mengelilingi batas lahan) adalah musyawarah adat turun sawah untuk menentukan hari baik membajak tanah serempak guna memutus siklus hama tanaman. Setelah padi menguning dan dipanen melimpah ruah, masyarakat menggelar “Mappadendang”. Pria dan wanita berbusana adat berjejer di sisi lesung kayu raksasa (Assung) sambil memegang alu kayu (Alu). Dentuman alu bersahut-sahutan dengan irama poliritmik yang rancak di bawah sinar bulan purnama, merayakan berkah bumi Lasinrang yang melimpah ruah.
“Narekko situru’i atinna tau tanae, massoloi bosi namalomo makkurung ase ri sapana (Manakala hati masyarakat seiya sekata, hujan berkah akan tercurah dan butir-butir padi akan melimpah ruah di lumbung desa).”
Pilar Penting dan Fakta Terverifikasi
Berdasarkan catatan naskah Lontara dan kajian antropologi budaya Bugis, berikut adalah poin-poin penting yang patut diketahui:
📻 Merawat Khazanah Bumi Lasinrang di Udara
Saksikan dan dengarkan ulasan tematik seputar sejarah, sastra Lontara, dan falsafah Bugis melalui siaran budaya interaktif LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang 92.40 MHz FM Pinrang.
Artikel ini diterbitkan secara resmi oleh Tim Khazanah Budaya Bugis LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang 92.4 FM Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Pinrang. Seluruh referensi bersumber dari naskah klasik Lontara dan arsip sejarah terakreditasi.




