PINRANG — Bagi Ruslan, berbicara tentang bencana bukan sekadar menjelaskan teori di dalam studio. Sebagian dari pengetahuan yang ia bagikan kepada pendengar Radio Suara Bumi Lasinrang lahir dari pengalaman melihat langsung bagaimana kehidupan berubah dalam hitungan detik ketika bencana datang.
Perawat RSUD Lasinrang itu telah cukup lama berkecimpung dalam dunia kegawatdaruratan. Selain pernah bertugas di unit gawat darurat dan perawatan intensif, ia juga aktif dalam organisasi profesi kegawatdaruratan dan terlibat dalam tim penanggulangan krisis kesehatan.
Pengalaman tersebut membawanya ke berbagai lokasi bencana, mulai dari penanganan di sejumlah daerah di Sulawesi hingga misi kemanusiaan di luar negeri.
Dalam program Halo Bumi Lasinrang bersama Mia Jufri dan Amar, Ruslan membagikan sebagian perjalanan itu kepada pendengar.
Palu, Sigi dan Donggala
Salah satu pengalaman yang disebut Ruslan adalah keterlibatannya dalam penanganan bencana di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah.
Wilayah tersebut menghadapi kombinasi bencana yang kompleks: gempa bumi, tsunami dan likuefaksi.
Bagi seorang petugas kesehatan, kondisi seperti itu bukan hanya menghadirkan banyak korban, tetapi juga masalah akses, fasilitas, logistik serta kebutuhan pelayanan kesehatan yang harus tetap berjalan di tengah kerusakan.
Pengalaman lapangan semacam itulah yang kemudian memperkuat pandangannya bahwa kesiapsiagaan tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan bereaksi setelah bencana terjadi.
Sistem, personel dan masyarakat harus dipersiapkan sebelumnya.
Bertugas di Turki, Melawan Cuaca dan Kendala Bahasa
Pengalaman berbeda diperoleh Ruslan ketika bergabung dalam Emergency Medical Team Indonesia untuk membantu penanganan gempa bumi Turki pada 2023.
Di sana, tantangannya bukan hanya kondisi korban.
Tim Indonesia harus menyesuaikan diri dengan suhu yang jauh berbeda dari Indonesia.
Ruslan menceritakan bagaimana kondisi dingin menjadi tantangan tersendiri bagi personel. Tim Indonesia harus bekerja sekaligus beradaptasi dengan lingkungan dan perlengkapan yang tersedia.
Ia juga melihat bagaimana tim dari sejumlah negara datang dengan kemampuan logistik yang berbeda-beda, termasuk fasilitas rumah sakit lapangan yang dirancang untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Selain cuaca, persoalan lain yang cukup terasa adalah bahasa.
Komunikasi antara petugas dengan pasien menjadi tantangan ketika kedua pihak tidak memiliki bahasa yang sama.
Pada akhirnya, mahasiswa Indonesia yang berada di Turki ikut membantu menjadi penerjemah sehingga tenaga medis dapat memahami keluhan pasien, kebutuhan mereka, hingga menjelaskan penggunaan obat.
Bagi tim medis, komunikasi bukan persoalan kecil.
Informasi mengenai lokasi nyeri, riwayat kondisi, kebutuhan pasien dan instruksi pengobatan semuanya membutuhkan pemahaman yang tepat.
Dalam misi tersebut, Ruslan menceritakan dirinya bertugas antara lain di pelayanan gawat darurat dan membantu pelayanan di kamar operasi rumah sakit lapangan.
Di tengah bencana, fasilitas kesehatan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung permanen. Tenda dapat berubah menjadi ruang gawat darurat, ruang perawatan bahkan ruang operasi agar pelayanan tetap berjalan.
Vanuatu dan Kolaborasi Tim dari Berbagai Negara
Pengalaman internasional berikutnya membawa Ruslan ke Vanuatu, negara kepulauan di kawasan Pasifik.
Berbeda dengan Turki yang menghadirkan tantangan suhu dingin, kondisi iklim Vanuatu lebih dekat dengan Indonesia.
Namun setiap lokasi bencana mempunyai persoalannya sendiri.
Dalam penuturan Ruslan, tim Indonesia berhadapan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, termasuk kasus trauma seperti patah tulang dan cedera akibat bangunan maupun guncangan.
Tim juga membangun pos pelayanan kesehatan dan bekerja bersama tenaga dari negara lain.
Ruslan menggambarkan keterlibatan berbagai Emergency Medical Team dari sejumlah negara sebagai bagian dari kolaborasi kemanusiaan internasional.
Di tengah keterbatasan pascabencana, perbedaan negara dan bahasa tidak mengubah tujuan utama: memastikan masyarakat terdampak tetap memperoleh pelayanan kesehatan.
Bahkan persoalan yang terlihat sederhana seperti makanan dan logistik personel menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan ketika tim berada jauh dari Indonesia.
Ketika Rumah Sakit Juga Menjadi Korban
Pengalaman lapangan Ruslan juga menunjukkan sisi lain dari bencana yang sering terlupakan masyarakat: fasilitas kesehatan sendiri dapat terdampak.
Dalam pembahasan mengenai penanganan gempa di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ia menceritakan bagaimana pelayanan kesehatan dalam situasi tertentu perlu dialihkan ke fasilitas lapangan ketika bangunan rumah sakit tidak memungkinkan digunakan secara normal.
Rumah sakit lapangan kemudian harus mengambil alih berbagai fungsi pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.
Kondisi seperti ini memperlihatkan mengapa sebuah rumah sakit juga membutuhkan rencana kedaruratan dan bencana.
Tenaga kesehatan tidak hanya perlu mengetahui cara menangani pasien. Mereka juga harus mengetahui bagaimana pelayanan tetap berjalan ketika listrik, bangunan, akses ataupun sumber daya normal terganggu.
Bencana Mengajarkan Arti Ketangguhan
Dari berbagai pengalaman tersebut, ada satu pesan yang berulang kali disampaikan Ruslan.
Ketangguhan atau resiliensi tidak dibangun hanya pada saat bencana terjadi.
Ketangguhan dimulai dari individu.
Kemudian keluarga.
Lalu masyarakat.
Pemerintah mempunyai peran besar dalam menyediakan sistem, kebijakan dan dukungan. Namun masyarakat yang memahami ancaman, mempunyai keterampilan serta mengetahui apa yang harus dilakukan akan jauh lebih siap ketika keadaan darurat datang.
Ruslan mengingatkan bahwa manusia tidak selalu dapat mencegah bencana.
Ada bencana yang dapat diprediksi, ada yang dapat dikurangi risikonya, dan ada pula yang datang tiba-tiba.
Karena itu, tujuan kesiapsiagaan bukan menjadikan masyarakat hidup dalam ketakutan.
Sebaliknya, masyarakat perlu belajar hidup berdampingan dengan risiko tanpa kehilangan kemampuan untuk bertindak secara rasional.
Pengetahuan membentuk cara seseorang mengambil keputusan. Keterampilan membuat seseorang mampu melakukan tindakan yang benar. Sedangkan kepedulian membuat kemampuan tersebut bermanfaat bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.
Dari Pinrang, Palu hingga Turki dan Vanuatu, pengalaman itu membawa kembali satu pelajaran yang sama:
bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi ketika kita lebih siap.
Tamat — Seri 3 Bagian Halo Bumi Lasinrang: “Kalau Bencana Datang, Sudah Siap?”
Radio Suara Bumi Lasinrang 92.4 FM
Suara Pinrang, Suara Kita!
Bencana Alam
Bencana Alam
Bencana Alam 