Di setiap sudut kediaman perantau Bugis di lima benua, pepatah ini selalu terpatri erat di dalam dada. Ungkapan “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata” adalah manifestasi teologis dan kultural yang menegaskan bahwa pertolongan Tuhan hanya akan mengalir pada pundak manusia yang berkeringat dalam ikhtiar sungguh-sungguh.
📜 Kartu Khazanah & Aksara Lontara
Warisan Luhur Bugis
Jejak Sejarah dan Nilai Kosmologi Budaya
Pepatah agung ini berakar dari wejangan para cendekiawan kuno Bugis (To Macca) seperti Nenek Mallomo dari Sidenreng Rappang dan para penasehat Kedatuan di kawasan Ajatappareng. Kata “Reso” bermakna kerja keras penuh kesungguhan; “Temmangingngi” bermakna pantang menyerah, ulet, dan tahan banting; sedangkan “Pammase Dewata” bermakna kasih sayang dan berkah dari Allah Yang Maha Kuasa. Falsafah ini menentang keras sikap pasrah yang pasif. Manusia Bugis meyakini bahwa rezeki, keselamatan pelayaran di lautan lepas, serta keberhasilan panen di sawah tidak turun begitu saja dari langit, melainkan dijemput dengan kesungguhan tangan dan keringat dingin.
“Aja’ mumate ri laleng sumpang, mateko ri tangnga padang (Janganlah engkau mati lesu di ambang pintu rumah, jemputlah takdirmu sebagai ksatria di tengah padang perjuangan).”
Pilar Penting dan Fakta Terverifikasi
Berdasarkan catatan naskah Lontara dan kajian antropologi budaya Bugis, berikut adalah poin-poin penting yang patut diketahui:
📻 Merawat Khazanah Bumi Lasinrang di Udara
Saksikan dan dengarkan ulasan tematik seputar sejarah, sastra Lontara, dan falsafah Bugis melalui siaran budaya interaktif LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang 92.40 MHz FM Pinrang.
Artikel ini diterbitkan secara resmi oleh Tim Khazanah Budaya Bugis LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang 92.4 FM Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Pinrang. Seluruh referensi bersumber dari naskah klasik Lontara dan arsip sejarah terakreditasi.




