PINRANG — Bencana tidak selalu memberi waktu untuk bersiap. Gempa bumi, banjir, tanah longsor hingga kondisi darurat lainnya dapat terjadi ketika masyarakat sedang menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, kesiapsiagaan seharusnya dibangun jauh sebelum bencana datang, dimulai dari individu dan keluarga.
Pesan tersebut mengemuka dalam program Halo Bumi Lasinrang di LPPL Radio Suara Bumi Lasinrang (Radio SBL) 92.4 FM yang menghadirkan Ruslan, seorang perawat RSUD Lasinrang yang aktif dalam bidang kegawatdaruratan dan penanggulangan bencana.
Dalam perbincangan bersama Mia Jufri dan Amar, Ruslan menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki karakter ancaman dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, langkah pertama dalam membangun kesiapsiagaan adalah mengenali ancaman yang ada di wilayah tempat tinggal.
Menurut Ruslan, Pinrang termasuk daerah yang perlu memberikan perhatian serius terhadap berbagai potensi bencana. Ia menyebut risiko gempa bumi, banjir, tanah longsor serta ancaman yang berkaitan dengan wilayah pesisir sebagai beberapa hal yang perlu dipahami masyarakat.
Pinrang memiliki wilayah yang beragam, mulai dari pesisir hingga kawasan pegunungan. Kondisi tersebut membuat jenis ancaman pada satu wilayah bisa berbeda dengan wilayah lainnya. Masyarakat pesisir, misalnya, menghadapi kondisi yang berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan atau daerah yang berdekatan dengan aliran sungai.
Dalam podcast tersebut, Ruslan juga menyinggung pemetaan risiko melalui instrumen kebencanaan seperti InaRISK dan Indeks Risiko Bencana Indonesia. Ia menyebut tingkat risiko harus dilihat tidak hanya dari kemungkinan terjadinya bencana, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkan dan seberapa siap kapasitas daerah menghadapinya.
Artinya, menurut dia, pembicaraan mengenai bencana tidak cukup berhenti pada pertanyaan, “Apakah bencana bisa terjadi?” Pertanyaan berikutnya yang jauh lebih penting adalah, “Kalau bencana itu benar-benar terjadi, sudah siapkah kita?”
Kesiapsiagaan Tidak Hanya Tugas Pemerintah
Salah satu pesan penting dalam perbincangan tersebut adalah perubahan cara pandang bahwa penanggulangan bencana bukan semata-mata urusan pemerintah, BPBD, tenaga kesehatan ataupun petugas penyelamat.
Masyarakat memiliki peran yang tidak kalah penting.
Pemerintah dan berbagai instansi dapat menyiapkan kebijakan, personel, fasilitas, sarana, pendanaan hingga prosedur penanganan. Namun ketika bencana terjadi, orang yang pertama kali berada di lokasi sering kali justru masyarakat itu sendiri.
Karena itu, kesiapsiagaan perlu dibangun sampai ke tingkat rumah tangga.
Ruslan menjelaskan pentingnya rencana kontinjensi sebagai pedoman ketika kondisi darurat terjadi. Di dalamnya terdapat pembagian peran, kebijakan, pendanaan, tim, prosedur hingga kebutuhan sarana dan prasarana.
Namun dokumen saja tidak cukup.
Masyarakat juga perlu mendapatkan pengetahuan, pelatihan dan simulasi sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika situasi yang sebenarnya terjadi.
Ruslan menganalogikannya seperti seorang petinju. Sekalipun memiliki kemampuan, seorang petinju tetap membutuhkan latihan sebelum bertanding. Demikian pula dalam menghadapi bencana: kesiapan harus dilatih, bukan baru dipikirkan ketika keadaan sudah darurat.
Mulai dari Ransel Siaga Keluarga
Pada tingkat paling sederhana, kesiapsiagaan dapat dimulai dari rumah.
Ruslan mengingatkan keluarga untuk menyiapkan kebutuhan darurat yang dapat segera dibawa ketika harus menyelamatkan diri. Dalam pembicaraan tersebut ia mencontohkan sebuah ransel berisi pakaian seperlunya, dokumen penting, makanan dan kebutuhan dasar yang dapat digunakan untuk bertahan pada masa awal setelah bencana.
Persediaan tersebut juga perlu diperiksa secara berkala, khususnya makanan atau kebutuhan lain yang memiliki masa kedaluwarsa.
Tujuannya bukan membuat masyarakat hidup dalam ketakutan, melainkan mengurangi kebingungan ketika waktu untuk menyelamatkan diri sangat terbatas.
Ketika kondisi darurat terjadi, keluarga tidak lagi sibuk mencari dokumen, pakaian atau kebutuhan lainnya. Fokus utama dapat diarahkan pada keselamatan jiwa.
Di dalam rumah, kesiapan juga dapat dimulai dari hal-hal yang terlihat sederhana: memastikan jalur keluar tidak terhalang barang, mengetahui jalur evakuasi, memahami risiko kebakaran, serta membangun kebiasaan aman dalam kehidupan sehari-hari.
Hal-hal kecil seperti itu dapat memiliki arti besar ketika bencana benar-benar terjadi.
Pengetahuan, Keterampilan dan Kepedulian
Kesiapsiagaan, menurut Ruslan, tidak hanya berbicara tentang perlengkapan.
Ada tiga modal yang berulang kali ditekankan dalam perbincangan Halo Bumi Lasinrang: pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian.
Masyarakat perlu memahami jenis ancaman yang ada di sekitarnya, mengetahui dampaknya serta mengerti apa yang harus dilakukan. Pengetahuan tersebut kemudian perlu diikuti keterampilan dan latihan.
Selanjutnya adalah kepedulian.
Seseorang yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan bukan hanya lebih siap melindungi dirinya sendiri, tetapi juga dapat membantu keluarga, tetangga dan orang-orang di sekitarnya sesuai kemampuan.
Pada akhirnya, ketangguhan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak fasilitas yang dimiliki pemerintah. Ketangguhan juga dibentuk dari rumah-rumah yang lebih siap, keluarga yang mengetahui risiko, dan masyarakat yang tidak panik ketika menghadapi keadaan darurat.
Bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah. Namun dengan mengenali ancaman, mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas, dampaknya dapat ditekan.
Bersambung: Seri Halo Bumi Lasinrang #2 — Saat Darurat, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
Radio Suara Bumi Lasinrang 92.4 FM
Suara Pinrang, Suara Kita!
Bencana Alam
Bencana Alam
Bencana Alam 