Lewati ke konten
92.4 FM Radio Suara Bumi Lasinrang • Pinrang, Sulawesi Selatan
WhatsApp Studio: 0851-2256-1992 • WITA
SUARA BUMI LASINRANG LPPL RADIO 92.4 FM • KABUPATEN PINRANG
TERKINI

Di Balik Dua Perunggu Fujy Anggy Lestari: Ketika Lawan Terberat Bukan Korea atau Thailand, tetapi Rasa Takut Kalah

Di Balik Dua Perunggu Fujy Anggy Lestari: Ketika Lawan Terberat Bukan Korea atau Thailand, tetapi Rasa Takut Kalah

PINRANG — Medali perunggu yang dibawa pulang Fujy Anggy Lestari dari Asian Games Aichi–Nagoya 2026 menyimpan cerita tentang lawan yang tidak terlihat di lapangan.

Bukan semata Korea Selatan. Bukan pula Thailand atau Jepang.

Tetapi mental.

Berbicara dalam program Halo Bumi Lasinrang Radio Suara Bumi Lasinrang 92,4 FM, Fujy secara terbuka menceritakan bagaimana tekanan pertandingan memengaruhi permainan tim putri Indonesia.

Atlet asal Pinrang itu mengakui salah satu pengalaman paling membekas terjadi ketika Indonesia menghadapi Korea Selatan dalam pertandingan menuju final nomor tim regu putri.

Ketika Permainan Seakan Tertahan

Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk membawa pertandingan lebih jauh.

Namun keadaan berubah.

Fujy merasakan permainan tim tidak keluar secara maksimal. Ada kekhawatiran melakukan kesalahan, ada tekanan untuk memenangkan pertandingan, dan pada akhirnya muncul rasa takut kalah.

Kondisi psikologis itu menurutnya membuat permainan terasa tertahan.

Indonesia kemudian harus mengakui Korea Selatan dengan skor 0-2.

Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran penting bagi Fujy. Di level pertandingan seperti Asian Games, kemampuan teknik para pemain relatif tinggi. Perbedaan bisa muncul dari kemampuan mengendalikan pikiran dan tekanan pada momen-momen menentukan.

Menariknya, tekanan berbeda justru ia rasakan saat menghadapi Thailand.

Meski Thailand dikenal sebagai kekuatan besar sepak takraw, Fujy merasa mampu bermain lebih lepas. Poin berjalan ketat, tetapi permainan bisa dinikmati tanpa beban berlebihan.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa rasa percaya diri dan ketenangan memiliki peran besar di lapangan.

Bangkit Melawan Jepang

Kesempatan untuk bangkit datang ketika Indonesia berhadapan dengan tuan rumah Jepang dalam perebutan medali perunggu nomor tim regu.

Fujy tampil sebagai killer pada regu pertama bersama Dita Pratiwi sebagai feeder dan Ayvonne Halimatu Zahra Perdhana sebagai tekong.

Indonesia memenangi set pertama 15-11.

Bagi Fujy, kemenangan set pembuka membuat ritme permainan semakin baik. Meski begitu, ia menolak merasa kemenangan sudah pasti berada dalam genggaman.

Dalam olahraga permainan, kepercayaan diri yang berlebihan dapat menjadi jebakan.

Ia memilih tetap fokus hingga poin terakhir.

Indonesia kemudian mengunci set kedua 15-9. Regu kedua juga memenangkan pertandingannya sehingga Indonesia memastikan kemenangan 2-0 atas Jepang dan meraih medali perunggu.

Fujy kembali memperoleh perunggu dari nomor kuadran putri.

Dari Lapangan Samping Rumah

Perjalanan Fujy menuju Asian Games sebenarnya dimulai jauh sebelum ia mengenakan seragam Indonesia.

Sepak takraw sudah hadir sejak masa kecilnya.

Di dekat rumahnya terdapat lapangan takraw, sementara sang ayah merupakan pelatih. Dari lingkungan itulah minat Fujy tumbuh.

Ia mengaku mulai berlatih sekitar usia enam tahun.

Menjadi perempuan tidak membuatnya menjauh dari olahraga tersebut. Justru tingkat kesulitan sepak takraw menjadi tantangan tersendiri yang membuatnya tertarik.

Pertandingan tingkat sekolah dasar dan antarkecamatan menjadi bagian awal perjalanannya.

Kariernya semakin serius ketika masuk program pembinaan atlet pelajar di Makassar.

Pada 2023, Fujy untuk pertama kalinya tampil di level internasional senior pada SEA Games Kamboja dan membawa pulang medali perunggu.

Tiga tahun kemudian, panggungnya semakin besar: Asian Games di Jepang.

Masa Muda yang Tidak Biasa

Ada harga yang harus dibayar.

Ketika sebagian teman seusianya menikmati waktu luang, Fujy harus membagi kehidupannya antara kuliah dan latihan.

Ia masih menempuh pendidikan pada bidang Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi.

Materi kuliah terkadang tertinggal karena aktivitas sebagai atlet, meski ia mengaku memperoleh dukungan dari teman-teman maupun dosen.

Fujy menyebut salah satu pengorbanan terbesar seorang atlet muda adalah waktu.

Namun pilihan tersebut juga membawanya melihat dunia yang mungkin tidak dialami sebagian besar teman seusianya.

Dari lapangan kecil di Pinrang, ia kini pernah berdiri di arena Asian Games membawa nama Indonesia.

Pesannya kepada generasi muda sederhana: terus berlatih, tekuni apa yang disukai, berusaha, dan berdoa.

Karena bagi Fujy, medali bukan datang dalam satu pertandingan.

Ia dibentuk bertahun-tahun sebelum seorang atlet akhirnya berdiri di podium.

Radio Suara Bumi Lasinrang — Suara Pinrang, Suara Kita!

Cover siaran SBL
LIVE 92.4 FM
Radio SBL 92.4 FM
Siaran langsung dari Pinrang