PINRANG — Dua atlet asal Pinrang mampu berdiri di podium Asian Games 2026. Namun bagi Muhammad Hardiansyah Muliang dan Fujy Anggy Lestari, pencapaian tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan sesaat.
Ada pekerjaan berikutnya: regenerasi.
Berbicara di program Halo Bumi Lasinrang Radio Suara Bumi Lasinrang 92,4 FM, Hardiansyah menilai Kabupaten Pinrang memiliki potensi kuat untuk terus melahirkan atlet sepak takraw.
Rekam jejaknya sudah tersedia.
Jauh sebelum dirinya tampil di level internasional, menurut Hardiansyah, sudah terdapat atlet-atlet Pinrang yang berlaga di tingkat Asia.
Kini generasi itu berlanjut.
Hardiansyah sendiri meraih medali perak dan perunggu di Asian Games Aichi–Nagoya 2026. Fujy Anggy Lestari membawa pulang dua perunggu.
Tantangan Terbesar Ada di Pembinaan Dasar
Menurut Hardiansyah, membentuk atlet dari usia dini justru menjadi bagian paling sulit dalam sebuah sistem pembinaan.
Ketika seorang atlet sudah masuk level provinsi, kemampuan dasarnya biasanya sudah terbentuk dan tinggal dipoles.
Situasinya berbeda di kampung.
Pelatih harus mengajarkan semuanya dari nol.
Proses itu membutuhkan kesabaran, lapangan, bola, fasilitas, program latihan, serta dukungan yang berkelanjutan.
Hardiansyah melihat sendiri proses tersebut dalam perjalanan kariernya.
Salah satu figur yang turut berperan sejak ia kecil adalah ayah Fujy, yang juga merupakan pelatih sepak takraw.
Ia bahkan menyebut peran para pelatih dari tingkat daerah, provinsi hingga nasional sebagai bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari prestasi seorang atlet.
Fujy Tumbuh dari Lingkungan Takraw
Cerita Fujy memperlihatkan bagaimana pembinaan akar rumput dapat menghasilkan atlet internasional.
Ia mulai mengenal sepak takraw sekitar usia enam tahun.
Lapangan berada di sekitar rumahnya dan sang ayah merupakan pelatih.
Dari sana, latihan berlangsung terus-menerus.
Fujy kemudian bertanding sejak tingkat sekolah dasar, masuk pembinaan atlet pelajar, memperkuat Sulawesi Selatan, hingga akhirnya mengenakan seragam tim nasional.
Pada usia 21 tahun, ia telah tampil di SEA Games dan Asian Games.
Kini Fujy bahkan sesekali ikut membantu melatih anak-anak di lingkungan rumahnya.
Namun ia mengakui mempertahankan minat anak-anak bukan pekerjaan mudah.
Jumlah peserta latihan bisa meningkat menjelang pertandingan atau perayaan tertentu, kemudian berkurang setelah kegiatan selesai.
Padahal sepak takraw membutuhkan proses panjang.
Kemampuan tidak dibentuk dalam hitungan minggu.
Menurut Fujy, diperlukan latihan bertahun-tahun untuk membangun teknik yang matang.
Dari Atlet Menjadi Pembina
Hardiansyah juga memiliki keinginan untuk ikut mengembangkan sepak takraw di Pinrang.
Menurutnya, struktur pembinaan di level nasional relatif telah tertata. Tantangan yang membutuhkan perhatian justru berada di tingkat daerah.
Kehadiran mantan atau atlet berpengalaman internasional dalam pembinaan lokal dinilainya dapat memberi manfaat besar.
Pengalaman mengenai latihan, teknik, disiplin, pengelolaan pertandingan hingga mental bertanding bisa ditransfer langsung kepada generasi berikutnya.
Hal yang sama ada dalam rencana Fujy.
Ia masih ingin fokus menjalani karier sebagai atlet karena usianya masih muda dan masih banyak target yang ingin dicapai.
Namun ia juga membuka kemungkinan melanjutkan pembinaan yang selama ini dijalankan ayahnya.
Prestasi Tidak Lahir Seketika
Cerita dua atlet tersebut menunjukkan satu pola yang sama.
Hardiansyah mulai bermain sekitar usia 10 tahun.
Fujy sekitar usia enam tahun.
Sebelum medali Asian Games, ada bertahun-tahun latihan di daerah.
Sebelum seragam tim nasional, ada pertandingan sekolah, kejuaraan daerah, pembinaan provinsi dan seleksi nasional.
Karena itu, menjaga regenerasi berarti memastikan anak-anak yang berlatih hari ini tetap memiliki jalan untuk berkembang lima, sepuluh, bahkan belasan tahun mendatang.
Hardiansyah berharap atlet muda tidak cepat puas dengan pencapaiannya.
Fujy meminta anak-anak muda terus menekuni apa yang mereka sukai, berusaha dan berdoa.
Keduanya juga mengingatkan pentingnya pendidikan.
Asian Games 2026 telah menunjukkan bahwa Pinrang mampu mengirim atlet hingga podium Asia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan nama-nama setelah Fujy dan Hardiansyah mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Radio Suara Bumi Lasinrang — Suara Pinrang, Suara Kita!
Berita
Berita
Berita 