PINRANG — Dari Bumi Lasinrang menuju panggung olahraga terbesar Asia, Fujy Anggy Lestari dan Muhammad Hardiansyah Muliang membawa cerita membanggakan bagi Kabupaten Pinrang.
Dua atlet sepak takraw tersebut menjadi bagian dari perjuangan kontingen Indonesia pada Asian Games Aichi–Nagoya 2026 di Jepang.
Fujy membawa pulang dua medali perunggu dari nomor tim regu putri dan kuadran putri. Sementara Hardiansyah menyumbangkan medali perak dari kuadran putra serta perunggu dari tim regu putra.
Dalam perbincangan pada program Halo Bumi Lasinrang Radio Suara Bumi Lasinrang 92,4 FM bersama host Mia Jufri, keduanya berbagi kisah yang lebih jauh dari sekadar medali.
Ada latihan panjang, tekanan mental, pengorbanan pendidikan dan masa muda, dukungan keluarga, hingga tanggung jawab membawa Merah Putih di arena internasional.
Fujy dan Pertandingan yang Menguji Mental
Bagi Fujy, salah satu pertandingan yang paling membekas adalah ketika tim putri Indonesia harus menghadapi Korea Selatan dalam perebutan tiket ke final nomor tim regu.
Menurut atlet berusia 21 tahun itu, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk memperpanjang pertandingan. Namun tekanan untuk menang justru membuat permainan tidak sepenuhnya keluar.
Fujy mengakui rasa takut kalah menjadi salah satu tantangan mental yang mereka hadapi.
Berbeda ketika menghadapi Thailand. Meski Thailand merupakan salah satu kekuatan utama sepak takraw Asia, Fujy merasa permainan Indonesia justru lebih lepas dan mampu menikmati pertandingan.
Pada perebutan medali perunggu melawan tuan rumah Jepang, Fujy bersama tim Indonesia kemudian bangkit.
Ia tampil dalam regu pertama dan membantu Indonesia menang dua set langsung 15-11 dan 15-9. Kemenangan regu berikutnya memastikan Indonesia menundukkan Jepang 2-0 dan membawa pulang perunggu.
Hardiansyah Pimpin Tim Muda Indonesia
Pengalaman berbeda dialami Hardiansyah.
Pada nomor kuadran putra, atlet yang akrab disapa Anca itu memikul tanggung jawab sebagai kapten. Tantangannya bukan sekadar teknik bermain, tetapi menjaga mental dan emosi anggota tim yang sebagian berusia jauh lebih muda.
Baginya, menyatukan karakter beberapa pemain dalam satu pertandingan menjadi pekerjaan penting seorang kapten.
Perjalanan Indonesia akhirnya mencapai partai final melawan tuan rumah Jepang.
Pertandingan berlangsung ketat hingga tiga set. Indonesia bangkit setelah kehilangan set pertama dan memaksa pertandingan berlanjut ke set penentuan, sebelum akhirnya Jepang menang tipis 15-13.
Indonesia pun membawa pulang perak.
Hardiansyah melihat hasil tersebut dengan perspektif yang lebih luas. Persiapan tim menuju Asian Games kali ini, menurutnya, jauh lebih singkat dibanding ketika ia menjalani pemusatan latihan pada 2018.
Karena itu, mencapai final tetap menjadi pencapaian yang ia syukuri.
Lebih dari Sekadar Medali
Ketika ditanya siapa yang pertama kali terlintas setelah meraih medali, Hardiansyah menyebut istri, anak, orang tua, dan keluarganya.
Ia menilai dukungan dan doa keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan seorang atlet.
Fujy juga menyampaikan hal serupa. Orang tua dan kakaknya menjadi sosok penting dalam perjalanan kariernya.
Bahkan, ayah Fujy merupakan pelatih yang mengenalkannya pada sepak takraw sejak kecil.
Dua atlet dari Pinrang itu kini tidak hanya membawa pulang medali. Mereka membawa bukti bahwa pembinaan dari lapangan-lapangan kecil di daerah mampu melahirkan atlet yang bersaing di level Asia.
Dari Pinrang, perjalanan mereka sampai ke Jepang.
Dan dari arena Asian Games, nama Pinrang ikut bergema bersama Merah Putih.
Radio Suara Bumi Lasinrang — Suara Pinrang, Suara Kita!
Berita
Berita
Berita 