PINRANG — Sebelum menjadi kapten tim sepak takraw Indonesia dan meraih medali di Asian Games, Muhammad Hardiansyah Muliang pernah menjadi anak berusia 10 tahun yang menghabiskan sore di lapangan takraw kampungnya.
Atlet asal Kabupaten Pinrang yang akrab disapa Anca itu tumbuh di wilayah Kecamatan Mattiro Bulu.
Sepak takraw begitu dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya. Lapangan tersedia di kampung dan permainan itu menjadi aktivitas masyarakat setiap sore.
Dari sekadar bermain, Hardiansyah kemudian mengikuti pertandingan antarsekolah dasar.
Tidak ada jalan pintas.
Karier internasionalnya dibangun sedikit demi sedikit.
Bermula dari Membantu Pasang Net
Saat melanjutkan pendidikan di Makassar, sebuah kesempatan muncul karena lokasi kampusnya berada tidak jauh dari tempat latihan tim sepak takraw Sulawesi Selatan.
Hardiansyah mulai mendekat ke lingkungan latihan tersebut.
Pada awalnya ia bahkan membantu memegang kunci tempat latihan, memasang net, dan membukanya kembali setelah latihan.
Lama-kelamaan ia mulai mengikuti program latihan.
Kemampuannya berkembang hingga dipercaya menjadi pemain inti dan mengikuti berbagai pertandingan antarkampus maupun kompetisi lainnya.
Dari sanalah pintu menuju tim nasional mulai terbuka.
Hardiansyah menjelaskan, pemilihan pemain tim nasional tidak dilakukan secara instan. Ada proses talent scouting, rekomendasi, kemudian seleksi panjang sebelum skuad akhir ditentukan.
Pada proses menuju tim nasional senior 2018, puluhan atlet harus bersaing.
Jumlah itu terus dipangkas sampai akhirnya terbentuk skuad yang akan memperkuat Indonesia.
Hardiansyah bertahan.
Pada 2018, ia resmi berada di tim nasional senior dan ikut mempersembahkan emas bagi Indonesia.
Pendidikan Sempat Diparkir
Di balik pencapaian tersebut ada keputusan besar yang jarang terlihat publik.
Hardiansyah telah menyelesaikan pendidikan S1 dan kemudian melanjutkan S2.
Ketika pendidikan magisternya berjalan sekitar tiga semester, datang panggilan mengikuti seleksi nasional di Jakarta.
Ia dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan pendidikan atau mengambil peluang mengejar karier internasional sebagai atlet.
Orang tuanya memberi perspektif yang kemudian memengaruhi keputusannya.
Pendidikan masih dapat dilanjutkan di kemudian hari, sementara peluang masuk ke level internasional sebagai atlet mungkin tidak datang dua kali.
Hardiansyah akhirnya memilih mengambil kesempatan itu.
Kuliah S2-nya dihentikan sementara dan fokusnya beralih penuh pada sepak takraw.
Keputusan tersebut berbuah hasil.
Ia masuk tim nasional, mengukir prestasi, dan kemudian memperoleh pekerjaan. Hardiansyah kini bekerja di lingkungan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan telah kembali melanjutkan pendidikannya.
Baginya, pendidikan tidak ditinggalkan.
Hanya ditunda untuk mengejar kesempatan yang datang pada waktu yang terbatas.
Dari Emas 2018 ke Perak 2026
Delapan tahun setelah pencapaian besarnya pada 2018, Hardiansyah kembali berdiri di arena besar.
Kali ini Asian Games Aichi–Nagoya 2026 di Jepang.
Ia menjadi salah satu pemain senior sekaligus kapten kuadran putra Indonesia.
Posisinya membawa tanggung jawab berbeda.
Hardiansyah tidak hanya memikirkan servis, pertahanan, atau serangan. Ia harus menjaga mental rekan setimnya yang sebagian jauh lebih muda.
Baginya, membangun satu tim berarti menyatukan banyak karakter dan pikiran.
Perjalanan tersebut membawa Indonesia ke final melawan Jepang.
Pertandingan berlangsung tiga set dan sangat ketat. Jepang akhirnya memenangkan set penentuan 15-13.
Indonesia meraih medali perak.
Hardiansyah juga memperoleh perunggu bersama tim regu putra.
Tidak Ada Juara Setelah Turun dari Podium
Meski telah memiliki perjalanan panjang, Hardiansyah menolak melihat prestasi sebagai alasan untuk berhenti berkembang.
Ia menyampaikan pesan yang kuat kepada atlet-atlet muda.
Seorang atlet boleh menjadi juara hari ini. Namun setelah turun dari podium, gelar itu akan kembali diperebutkan pada pertandingan berikutnya.
Karena itu, tidak ada ruang untuk cepat puas.
Latihan harus berlanjut.
Dan di tengah ambisi mengejar prestasi, pendidikan tidak boleh dilupakan.
Pesan itu datang dari seseorang yang pernah menghadapi sendiri pilihan sulit antara bangku kuliah dan lapangan.
Dari lapangan kampung di Pinrang, perjalanan Hardiansyah telah membawanya berkali-kali mengenakan Merah Putih.
Tetapi menurutnya, perjalanan seorang atlet tidak pernah benar-benar selesai hanya karena satu medali telah diraih.
Radio Suara Bumi Lasinrang — Suara Pinrang, Suara Kita!
Berita
Berita
Berita 