Lewati ke konten
92.4 FM Radio Suara Bumi Lasinrang • Pinrang, Sulawesi Selatan
WhatsApp Studio: 0851-2256-1992 • WITA
SUARA BUMI LASINRANG LPPL RADIO 92.4 FM • KABUPATEN PINRANG
TERKINI

Kembali Ke Distorsi Hadirkan 20 Band, Musisi Pinrang Ingin Bangkitkan Kembali Semangat Festival

Kembali Ke Distorsi Hadirkan 20 Band, Musisi Pinrang Ingin Bangkitkan Kembali Semangat Festival

PINRANG — Semangat musik yang pernah mewarnai panggung-panggung festival band di Kabupaten Pinrang pada akhir 1990-an hingga era 2000-an kembali digaungkan. Melalui kegiatan bertajuk “Kembali Ke Distorsi – Night to Remember”, para musisi lintas generasi dari Pinrang dan sejumlah daerah sekitarnya bersiap berkumpul kembali dalam sebuah pertunjukan yang mengusung semangat nostalgia, persahabatan, dan regenerasi.

Sebanyak 20 band dijadwalkan tampil dalam kegiatan yang akan berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, di SeeYou Cafe, Pinrang, mulai pukul 19.30 WITA. Acara tersebut terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya masuk.

Persiapan kegiatan ini menjadi pembahasan dalam program Pinrang Creative Network (PCN) Radio Suara Bumi Lasinrang (SBL), Senin (19/10/2026), yang dipandu Amar bersama tiga narasumber, yakni Ciwank selaku Ketua Panitia Kembali Ke Distorsi sekaligus Ketua Musisi Pinrang Bersatu, Sofyan dari RK Popo Pipi, dan Ricky dari Black Joker.

Mengenang Kejayaan Festival Band Pinrang

Dalam perbincangan tersebut, Ciwank mengenang masa ketika Kabupaten Pinrang menjadi salah satu pusat perkembangan musik festival di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Menurutnya, berbagai festival yang berlangsung sejak akhir 1990-an telah melahirkan sejumlah generasi musisi dengan kemampuan dan karakter bermusik yang beragam.

Nama-nama seperti Indonesia Baru, Elastise, Reinkarnasi, Black Joker, dan sejumlah kelompok musik lainnya menjadi bagian dari perjalanan panjang perkembangan band di Pinrang.

Ciwank menyebut bahwa kegiatan festival pada masa itu bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga ruang pembelajaran, pembentukan karakter, dan pengembangan jaringan pertemanan antarmusisi.

Para musisi harus berjuang dengan fasilitas yang terbatas, mulai dari mencari tempat latihan, mempelajari lagu secara mandiri, hingga melakukan perjalanan ke luar daerah untuk mengikuti festival.

Studio musik juga memiliki peran penting sebagai tempat bertemunya para musisi, berbagi pengetahuan, serta membangun komunitas.

Namun, seiring perubahan zaman, aktivitas festival band di Pinrang dinilai tidak lagi seramai masa sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan munculnya keinginan untuk kembali mempertemukan para musisi lintas generasi.

Berawal dari Reuni Musisi di Sidrap

Gagasan Kembali Ke Distorsi muncul setelah sejumlah musisi Pinrang menghadiri kegiatan reuni band di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Pertemuan tersebut membangkitkan keinginan untuk menyelenggarakan kegiatan serupa di Pinrang. Dari perbincangan antarmusisi, terbentuklah kepanitiaan yang kemudian mempersiapkan acara dalam waktu kurang lebih satu bulan.

Ciwank menegaskan bahwa Kembali Ke Distorsi merupakan kegiatan reuni yang digagas bersama oleh para musisi, bukan kegiatan organisasi Musisi Pinrang Bersatu secara kelembagaan.

Antusiasme peserta ternyata melampaui perkiraan panitia. Banyak kelompok musik menyatakan keinginan untuk tampil, tetapi keterbatasan waktu pelaksanaan membuat jumlah penampil dibatasi menjadi 20 band.

Kelompok musik tersebut berasal dari Pinrang dan beberapa daerah sekitar, termasuk Sidrap, Parepare, Enrekang, Polewali, dan Barru.

Kehadiran para musisi dari berbagai daerah diharapkan dapat menghadirkan kembali suasana persahabatan yang terbentuk melalui panggung-panggung festival pada masa lalu.

Bukan Sekadar Nostalgia, tetapi Juga Regenerasi

Di balik semangat reuni, Kembali Ke Distorsi membawa harapan yang lebih besar, yakni membangkitkan kembali minat generasi muda untuk membentuk band dan mengembangkan kemampuan bermusik.

Ciwank menilai Pinrang memiliki sejarah panjang dalam melahirkan talenta musik. Potensi tersebut perlu kembali didukung melalui tersedianya ruang latihan, kesempatan tampil, serta kegiatan musik yang berkelanjutan.

Ia juga berharap adanya dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dalam memfasilitasi kegiatan dan pengembangan komunitas musik.

Sementara itu, Sofyan dan Ricky turut membagikan pengalaman mereka saat aktif mengikuti festival band, termasuk berbagai tantangan teknis, perjalanan menuju lokasi pertunjukan, serta momen-momen unik yang masih membekas hingga sekarang.

Bagi para musisi tersebut, persaingan di atas panggung tidak menghilangkan persahabatan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Semangat kekeluargaan inilah yang ingin kembali dihidupkan melalui Kembali Ke Distorsi.

Berharap Menjadi Awal Kebangkitan Musik Pinrang

Panitia berharap kegiatan perdana ini dapat menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan pertunjukan musik yang lebih besar dan terencana.

Kemungkinan menghadirkan festival terbuka, memperluas partisipasi kelompok musik, hingga menjadikan kegiatan serupa sebagai agenda berkelanjutan turut menjadi bagian dari harapan para musisi.

Pada akhir perbincangan, Ciwank menegaskan pentingnya menjaga hubungan antarmusisi lintas generasi agar tidak berhenti pada satu kegiatan reuni.

“Intinya, dengan ajang Kembali Ke Distorsi ini, silaturahmi antarlintas generasi musisi di Pinrang, terutama anak band festival, masih terjaga dengan baik dan semoga ini akan berkelanjutan terus,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, para musisi berharap panggung musik Pinrang kembali menjadi ruang untuk berkarya, mempererat persaudaraan, sekaligus melahirkan generasi baru yang mampu melanjutkan perjalanan musik daerah.

Kembali Ke Distorsi menjadi momentum untuk membuktikan bahwa meskipun waktu telah berlalu, semangat bermusik dan persahabatan yang tumbuh di atas panggung tidak pernah benar-benar hilang.

Cover siaran SBL
LIVE 92.4 FM
Radio SBL 92.4 FM
Siaran langsung dari Pinrang